Bersungut-sungut
24 December 2020

Play Audio Version

Allah adalah Allah yang Mahatahu. Keberadaan Allah yang Mahatahu ini menuntut kita bersikap dengan benar terkait dengan keberadaan-Nya. Kalau Allah Mahatahu, maka kita harus bersikap bersikap tulus di hadapan-Nya. Kita tidak bisa—dan memang tidak boleh—bersikap munafik terhadap Allah, sebab Allah mengetahui kedalaman hati kita. Dalam hal ini, hendaknya orang percaya tidak seperti orang-orang Yahudi yang berlaku munafik pada zaman Yesus (Mat. 15:8; 23). Orang percaya adalah anak-anak bagi Allah Bapa yang dapat bersekutu dari hati ke hati dengan Bapa dalam ketulusan. Allah menghendaki ketulusan sebagaimana Dia juga bersikap tulus kepada orang percaya sebagai anak-anak-Nya. Orang yang tidak tulus, tidak dapat menemukan hadirat Allah dan tidak dapat hidup di dalam-Nya.

Kalau Allah Mahatahu, berarti setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup ini ada dalam kemahatahuan Allah yang sempurna. Allah memberikan providensia-Nya yang sempurna kepada anak-anak-Nya. Tidak ada sesuatu terjadi yang bisa mendatangkan kecelakaan bagi orang percaya. Sebaliknya, segala sesuatu yang terjadi mendatangkan kebaikan. Dalam hal ini, providensia (perlindungan dan pemeliharaan) Allah tidak perlu, dan memang tidak boleh diragukan sama sekali. Meragukan providensia Allah berarti “mencobai” Tuhan Allah. Meragukan providensia-Nya adalah bentuk pelecehan atau sikap tidak hormat kepada Allah yang setia.

Dengan hal tersebut, tidak ada alasan untuk bersungut-sunggut dan tidak mengucap syukur atas segala sesuatu yang terjadi, baik itu dirasa menyenangkan atau pun sebaliknya. Oleh sebab itu, Allah menghendaki agar orang percaya mengucap syukur dalam segala hal (Ef. 5:20). Mengucap syukur adalah pengakuan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini berada dalam kendali Allah yang sempurna. Tidak ada sesuatu yang terjadi dalam hidup seorang anak Allah di luar kontrol dan monitor Allah. Dan yang luar biasa adalah semua yang terjadi dalam hidup orang percaya mendatangkan kebaikan bagi mereka, yaitu untuk menjadikan orang percaya serupa dengan Yesus (Rm. 8:28). Allah tidak pernah memberikan yang tidak baik bagi orang-orang percaya. Jadi, seharusnya orang percaya mengucap syukur kepada Allah bukan hanya pada waktu mengalami keadaan yang baik dan menyenangkan atau pada waktu sesuatu yang dipandang menguntungkan.

Nasihat Paulus agar orang percaya mengucap syukur dalam segala hal dan bersukacita senantiasa, bukan tanpa alasan. Allah adalah Allah yang bukan saja Mahakuasa, melainkan juga tidak pernah mendatangkan kecelakaan bagi anak-anak-Nya (Yer. 29:11; Rm. 8:28). Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh mencurigai Tuhan saat berdalam keadaan hidup yang tidak menyenangkan, dengan berpikir seakan-akan Allah memberi sesuatu yang buruk. Ini adalah sikap tidak hormat kepada Allah. Orang-orang seperti ini pasti bersungut-sungut terhadap Allah, dan tidak jarang mereka secara diam-diam marah terhadap Allah. Dengan sikap seperti ini, berarti tidak mengormati Allah. Orang seperti ini tidak dapat hidup di hadirat Allah.

Orang percaya tidak boleh bersungut-sungut dalam keadaan bagaimana pun. Sikap bersungut-sungut menunjukkan bahwa mereka tidak mengucap syukur atas kebaikan yang Allah berikan. Itu merupakan sikap yang mempersalahkan Allah. Inilah yang mendatangkan bencana bagi bangsa Israel dalam perjalanan ke Kanaan, sehingga banyak yang ditewaskan di padang gurun (1Kor. 10:10). Ketika seseorang mengucap syukur dalam segala keadaan, Tuhan pasti akan memberi jalan keluar kepadanya pada waktunya. Dalam segala situasi, Allah memberi pengalaman hidup yang nyata di hadirat-Nya. Hidup di hadirat Allah tidak selalu membuat hidup kita bebas dari masalah. Namun demikian, yang pasti masalah hidup kita tidak akan melampaui kekuatan kita. Pada akhirnya, Tuhan akan menunjukkan jalan keluar atas masalah yang kita hadapi. Hal tersebut akan membangkitkan kekaguman terhadap Allah, dan kekaguman ini akan membuahkan ucapan syukur yang tulus dan hati yang mengasihi Dia.

Ucapan syukur ini bukan sekadar sebuah “lips-service” atau ucapan di bibir saja sebagaimana kebiasaan orang pada umumnya, melainkan ucapan syukur yang keluar dari kesadaran yang sungguh-sungguh bahwa seseorang ada sebagaimana ia ada, hanya karena anugerah dan kemurahan Tuhan semata-mata. Di balik apa yang dapat dilihat, ternyata ada tangan yang tidak kelihatan yang menjaga dan melindungi orang percaya, mengawal mereka dengan para malaikat-Nya. Tangan Bapa surgawi yang penuh tanggung jawab menjaga anak-anak-Nya dengan keperkasaan dan kasih sayang-Nya yang hebat. Orang percaya harus sungguh-sungguh bersyukur kepada Bapa dan Tuhan Yesus Kristus yang telah menunjukkan rahmat-Nya yang besar, sehingga selamanya selalu dalam penyertaan Allah, yaitu hidup di hadirat Allah.