Berpusat pada Kehidupan Yesus
08 April 2021

Play Audio

Alkitab menulis banyak kisah, dan tidak ada satu pun dari kisah Alkitab yang tidak mengandung kebenaran. Semua yang ditulis di dalam Alkitab pasti memuat kebenaran. Hanya, tentu saja semua kebenaran yang ditulis dalam Alkitab harus berpusat pada Perjanjian Baru dan akhirnya berpusat pada pribadi Yesus. Kebenaran yang berpusat pada pribadi Yesus adalah kebenaran berkualitas tinggi, sesuai yang dikehendaki oleh Allah Bapa bagi umat Perjanjian Baru. Hal ini tidak berarti kebenaran dalam Perjanjian Lama tidak memiliki arti sama sekali. Kisah dalam Perjanjian Lama—walaupun tidak dipusatkan pada Perjanjian Baru, khususnya pada pribadi Yesus—tetap memiliki nilai atau kualitas. Tetapi kualitasnya berbeda jika dibanding dengan kebenaran yang dipusatkan pada pribadi Yesus dalam Perjanjian Baru. 

Penyataan pribadi Yesus dalam Perjanjian Baru merupakan penggenapan dari apa yang diajarkan, dirindukan, dan diharapkan oleh para nabi (Mat. 5:17; 13:17). Ketika membaca Perjanjian Lama, hendaknya kita menggunakan kacamata Perjanjian Baru untuk menemukan penggenapan dari apa yang hendak Allah ajarkan kepada bangsa Israel. Jadi kita tidak boleh mengambil pelajaran secara harafiah dari Perjanjian Lama lalu mengenakannya dalam kehidupan umat Perjanjian Baru. Harus selalu diingat bahwa pusat pusaran kebenaran adalah apa yang diajarkan oleh Yesus dan yang dilakukan-Nya. Hal ini dimaksudkan agar standar kehidupan yang harus dikenakan orang percaya adalah segala hal yang diajarkan dan dilakukan oleh Yesus. 

Seperti misalnya jika kita meninjau sejarah hidup Abraham, kita harus belajar dari imannya. Iman itu artinya penurutan kepada kehendak Allah. Kita bisa belajar dari jiwa kemusafiran Abraham yang cocok dengan kehidupan kita sebagai umat Perjanjian Baru. Melihat kehidupan Daniel, kita melihat integritasnya yang taat tak bersyarat. Kehidupan Sadrakh, Mesakh, Abednego dalam kisah ketika mereka dibuang ke dapur api yang panasnya dilipatgandakan, menyatakan iman yang kokoh terhadap Allah Israel meskipun dalam ancaman maut. Ketaatan tidak bersyarat seperti yang ditunjukkan Abraham, Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego jika dilihat dengan kacamatan Perjanjian Baru, maka iman seperti itu persis seperti yang dimiliki Tuhan Yesus. Ia taat walau sampai mati di kayu salib.

Jadi, semua kisah dalam Alkitab harus berpusat pada Yesus. Nilai dari kisah dalam Alkitab harus dikaitkan dengan kehidupan umat Perjanjian Baru. Kalau kita memperhatikan banyak khotbah, sering kali kisah dalam Perjanjian Lama memiliki frame atau bingkai masing-masing, sehingga tidak pas dengan kehidupan orang percaya karena memiliki agenda sendiri di dalam kisah-kisah tersebut. Lalu, agenda tersebut tidak berpusat pada Perjanjian Baru, khususnya pada pribadi Yesus. Memang mengandung pelajaran yang bisa bermanfaat, tetapi tidak cocok sepenuhnya untuk umat Perjanjian Baru. Oleh karenanya, kita harus berhati-hati dalam menerapkan ayat-ayat Perjanjian Lama dalam kehidupan masa kini.

Jika jemaat tidak memahami penerapan yang benar dari Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama, dia merasa bahwa itu Firman Tuhan yang harus dilakukan secara harfiah. Akan tetapi, sebenarnya tindakan tersebut tidak cocok sepenuhnya untuk umat Perjanjian Baru. Kalau kita yang selama ini belajar Firman Tuhan dengan menekankan kekudusan/kesucian, hidup bertanggung jawab, langit baru bumi baru; maka dengan tiga ukuran ini sebenarnya kita sudah cukup memiliki pertimbangan untuk bisa membedakan roh. Membedakan roh artinya menangkap spirit atau gairah apa di balik khotbah, nasihat, pemberitaan Firman itu. Di Alkitab, kita mengerti ada “yesus lain,” ada “injil lain,” ada “roh lain.” Jadi, spirit apa yang hendak dikemukakan di balik khotbah, nasihat, atau pemberitaan Firman tersebut? Seseorang yang belajar kebenaran dengan sungguh, dapat mengendus atau merasakan relevansi Firman tersebut dalam kehidupannya. Apabila Firman tersebut tidak berimplikasi pada hidup orang percaya sehingga semakin seperti Kristus, dapat dipastikan itu adalah gairah atau spirit yang lain.

Pada akhirnya, kita harus bertekad untuk mencapai apa yang diproyeksikan Tuhan dalam Alkitab. Jangan sampai kita hanya mengerti apa yang Tuhan kehendaki bagi kita, tetapi kita tidak bertekad untuk melakukannya. Kalau Alkitab memusatkan kebenaran pada pribadi Yesus, maka sebenarnya hal tersebut merupakan panggilan bagi orang percaya untuk memusatkan hidup pada pribadi-Nya. Orang percaya harus berani mempertaruhkan semuanya untuk memusatkan hidup pada Tuhan saja. Hal ini akan ditandai dengan kesediaan melepaskan percintaan dunia, tidak terikat dengan kesenangan apa pun, dan mengasihi jiwa-jiwa tanpa batas seperti yang Tuhan lakukan. Untuk ini, dibutuhkan bukan hanya pengertian, melainkan juga tekad yang kuat. Inilah tantangan kita untuk mengikuti jejak Tuhan.