Berpikir Jauh Lebih Besar
02 April 2021

Play Audio

Berbicara mengenai rencana Allah yang digenapi dalam hidup kita, perlu dipertanyakan, kira-kira apa rencana Allah yang telah dan akan digenapi dalam hidup kita? Tidak jarang kita mendengar dan mungkin kita juga mengucapkannya: “Menggenapi rencana-Mu, ya Allah.” Namun, pernahkah kita dengan sungguh memperkarakan hal ini? Apa yang dimaksud dengan rencana Allah dalam hidup kita? Apakah kita benar-benar memahami hal ini dan sungguh-sungguh kita mengalami pemenuhan atau penggenapan rencana Allah tersebut? Kita adalah anak-anak Allah. Ironis, mungkin sebutan itu bagi orang Kristen—apalagi jika Kristen turunan—sudah menjadi sebutan yang biasa didengar maupun diucapkan, sehingga tidak menjadi sesuatu yang agung. Status sebagai anak Allah tidak lagi kita pandang sebagai sesuatu yang luar biasa. Padahal, status atau sebutan sebagai anak Allah merupakan hal yang sangat luar biasa. Tidak ada agama di dunia ini yang memiliki pengajaran tentang hubungan antara Allah yang disembah dengan umat sebagai hubungan Bapa dan anak. Ini hanya ada di dalam kekristenan.

Sebutan atau status sebagai anak Allah memiliki konsekuensi, risiko, dan implikasi yang sangat berat. Sebab, jika kita adalah anak-anak Allah, berarti kita harus benar-benar berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Itu berarti kita pasti berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah sebagai Bapanya. Itulah sebabnya, dalam 1 Petrus 1:17-18 firman Tuhan mengatakan, “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana…” Ketika kita menjadi anak-anak Allah, maka Bapa di surga merancang setiap individu bagaimana menjadi mulia di mata Allah. Hal ini berarti kita tidak boleh merancang diri kita sendiri. Kita harus melihat dan memahami secara benar rancangan Allah atas hidup kita. Menjadi suatu kemutlakan, seorang yang mengaku sebagai anak-anak Allah harus memiliki karakter seperti Bapanya. Karakter Bapa tercermin dalam tindakan dan seluruh kehidupan Yesus. Jadi, kalau orang Kristen tidak semakin seperti Yesus berarti ia bukan anak-anak Allah yang sah. Dalam hal ini keselamatan tidak boleh hanya dipandang secara yuridis, tetapi juga secara fakta kehidupan.

Menjadi anak-anak Allah, harta yang kita miliki hanyalah Allah Bapa kita saja, dan kita menjadi milik-Nya secara penuh. Sebagai anak tebusan Allah oleh darah Tuhan Yesus, kita menjadi lebih miskin dari orang miskin. Sebab, semiskin-miskinnya seseorang, ia masih memiliki hak. Tetapi ketika Tuhan menebus kita, semua yang kita miliki adalah milik Tuhan. Maka Alkitab berkata, “Kamu bukan milik kamu sendiri.” Jadi kalau kita masih merasa memiliki diri sendiri, berarti kita menolak penebusan itu, dan kita tidak bisa dimiliki Tuhan. Tentu hal ini menjadi sangat berat bagi kita yang telah terbiasa hidup dalam irama dunia. Hal ini tidak berbicara mengenai uang yang kita bisa berikan ke gereja, status sebagai pendeta atau jemaat awam, aktivis gereja atau lainnya yang bersifat jasmaniah. Ini berbicara apakah kita benar-benar bersedia dimiliki oleh Tuhan, dan memenuhi apa yang Bapa rancang bagi kita masing-masing atau tidak. Firman Tuhan dalam Efesus 2:10 berkata, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah yang dirancang Allah sebelumnya, supaya kita hidup di dalam-Nya, supaya kita mengalami-Nya.”

Kalau kita memiliki Allah yang melintasi segala langit, yang memiliki bertriliun-triliun planet dan bintang, apalah artinya semua materi di bumi ini? Apalah artinya dengan durasi waktu hidup kita yang hanya 70 tahun? Tidak ada artinya sama sekali. Jadi kalau kita sebagai orang Kristen masih berpikir betapa hebatnya Allah menuntun bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan dan itu dianggap sebagai nilai tertinggi yang dimiliki Allah dengan berkat mukjizat-mukjizat yang bisa kita alami, betapa miskinnya kita. Tentu kita tidak menyangkal kehebatan Allah yang Allah tunjukkan dalam perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan; laut terbelah, Yerikho dirobohkan, manna diberikan limpah setiap hari, dan segala berkat lain. Tetapi itu belumlah berarti jika dibanding Allah yang akan membawa kita melintasi segala langit, dan kita akan tinggal di langit baru bumi baru. Berpikirlah dengan pikiran yang jauh lebih besar. Apa pun kebahagiaan yang bisa kita nikmati di bumi, apa pun barang-barang dunia yang bisa kita miliki, tidak ada artinya sama sekali dibanding memiliki Tuhan Semesta Alam.