Bermartabat Tinggi
16 October 2020

Play Audio Version

Tidak ada agama di dunia ini yang memanggil Allah yang disembah sebagai bapaknya, atau paling tidak, hampir tidak ada. Tetapi di dalam kekristenan, orang percaya dapat memanggil Allah sebagai Bapa. Dalam Doa Bapa Kami, kalimat pertama adalah “Bapa kami yang di surga.” Secara langsung dan jelas, Yesus mengajar kepada orang percaya untuk memanggil Allah sebagai Bapa. Banyak orang tidak mengerti bahwa panggilan “Bapa” untuk Allah mengandung konsekuensi, bukan sesuatu yang murahan dan mudah dilakukan. Itulah sebabnya, dalam 1 Petrus 1:17 firman Tuhan mengatakan: “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia artinya hidup dalam sikap hormat kepada Allah dengan kegentaran yang kudus dan tulus kepada-Nya.

Secara tidak langsung, Yesus menunjukkan bahwa kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa, kita tidak boleh hidup sama seperti mereka yang tidak memanggil Allah sebagai Bapa. Itulah sebabnya, selanjutnya di dalam 1 Petrus 1:18-19 tertulis: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Ayat ini menunjukkan bahwa penebusan oleh darah Yesus membuat kita menjadi anak-anak Allah. Oleh sebab itu, kita harus mengenakan gaya hidup yang baru, yaitu cara hidup anak-anak Allah. Inilah konsekuensi memanggil Allah sebagai Bapa. Konsekuensi yang harus kita penuhi sepanjang kita hidup di bumi ini sampai nanti di kekekalan.

Konsekuensi hidup sebagai anak-anak Allah—yaitu manusia yang memanggil Allah sebagai Bapa—ditulis di ayat-ayat sebelumnya yaitu di ayat 13-16. Ayat-ayat itu jelas dan sangat tegas mewajibkan orang percaya untuk hidup kudus seperti Allah sendiri, atau memiliki kekudusan yang berstandar Allah. Kalimat di dalam ayat-ayat itu jelas sekali menunjukkan bahwa orang yang memanggil Allah sebagai Bapa harus hidup di dalam kekudusan-Nya. Dalam 1 Petrus 1:13-16 tertulis: “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Panggilan hidup kudus dengan standar Allah—yaitu hidup sebagai anak-anak Allah—hendaknya tidak dipandang sebagai suatu beban atau kewajiban yang menyakitkan, tetapi kita harus memandangnya sebagai suatu berkat dan kehormatan untuk hidup sebagai manusia yang bermartabat tinggi. Inilah sebenarnya maksud dari penciptaan makhluk yang disebut manusia, yaitu agar manusia hidup dalam penghormatan kepada Allah secara patut, dengan hidup sesuai dengan standar kekudusan-Nya. Keselamatan dalam Yesus Kristus sejatinya hendak mengembalikan manusia kepada rancangan semula ini. Dengan demikian, secara tidak langsung Doa Bapa Kami merupakan isyarat bahwa manusia harus hidup sesuai dengan maksud tujuan Allah menciptakan manusia. Dengan mengucapkan kalimat-kalimat dalam Doa Bapa Kami, berarti seseorang yang memberi diri untuk masuk proses mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Kalau seseorang hanya bisa mengucapkannya tanpa mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar—yaitu berjuang untuk menjadi manusia yang sesuai dengan kehendak Allah—berarti ia hanya mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami dengan sikap hati yang munafik.

Seperti yang telah dikemukakan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Hidup kita benar-benar disita oleh keharusan mengenakan hidup sesuai dengan kebenaran yang termuat di dalam Doa Bapa Kami. Konsekuensi yang tidak ringan itu adalah hidup di dalam kekudusan sesuai dengan standar Allah. Dalam hal ini, oleh karena kasih karunia, Allah menuntun kita melalui Doa Bapa Kami untuk memiliki kehidupan yang mulia sesuai dengan rancangan Allah. Dengan demikian, Doa Bapa Kami adalah berkat yang Allah sediakan melalui Yesus Kristus kepada orang percaya yang benar-benar bersedia taat kepada Yesus, artinya bersedia mengikuti jejak Yesus, yang hidup hanya untuk menuruti kehendak Allah dan bermartabat seperti Bapa-Nya. Dengan demikian, menjadi seperti Yesus berarti bermartabat seperti Bapa di surga. Jadi, pada dasarnya, sempurna seperti Bapa itu serupa dengan Yesus.