Berkodrat Ilahi, Bukan Fantasi
30 September 2018

Tidak dapat dibantah adanya orang-orang Kristen -bahkan teolog atau pengajar Alkitab- yang menganggap bahwa berkeadaan sebagai berkodrat Ilahi merupakan sebuah fantasi. Mereka memandang bahwa berkodrat Ilahi sesuatu yang tidak akan pernah terwujud atau tidak pernah tergapai dalam kehidupan manusia di bumi. Mereka memandang bahwa orang percaya yang berusaha untuk berkodrat Ilahi adalah orang yang berfantasi kosong. Mereka yang yang mau berkodrat Ilahi dipandang sebagai orang yang sombong. Sesungguhnya, berkodrat Ilahi bukanlah fantasi.Sebab dalam konteks kehidupan orang percaya ukuran berkodrat Ilahi adalah Tuhan Yesus sendiri. Kalau Tuhan Yesus adalah Pribadi yang hidup dan benar-benar nyata, maka ukuran tersebut juga benar-benar nyata, bukan sebuah fantasi. Biasanya orang yang memandang bahwa berkodrat Ilahi adalah fantasi dan tidak akan dapat dicapai di bumi, berpendirian bahwa hanya di surga ada keadaan tersebut.

Berkodrat Ilahi harus dipandang dari perspektif Allah.

Yesus adalah model atau prototipe manusia yang berkodrat Ilahi. Sebagai umat pilihan yang ditentukan untuk serupa dengan Dia, kita memiliki panggilan untuk berjuang menjadi serupa dengan Yesus. Perjuangan untuk serupa dengan Yesus sebenarnya sama artinya dengan perjuangan untuk berkodrat Ilahi. Sangatlah picik kalau seseorang memandang berkeadaan berkodrat Ilahi sebagai fantasi dan halusinasi, sementara ia setuju bahwa orang percaya harus menjadi seperti Yesus. Jadi sangat keliru kalau dikatakan bahwa berkeadaan berkodrat Ilahi sebagai fantasi atau tidak ada, yang ada adalah kedewasaan. Bukankah kedewasaan pada dasarnya adalah proses untuk menuju keadaan berkodrat Ilahi? Tidak pernah dapat dikatakan bahwa kedewasaan adalah keadaan statis, tetapi bagian dari proses pertumbuhan menuju keadaan berkodrat Ilahi.

Banyak orang Kristen berpandangan keliru, bahwa berkeadaan berkodrat Ilahitidak akan dapat dicapai di bumi ini; berkeadaan berkodrat Ilahihanya bisa ditemukan dan dialami di surga. Menurut mereka bumi bukanlah tempat manusia dapat berkeadaan berkeadaan berkodrat Ilahi. Ini berarti mereka juga tidak percaya bahwa ada kesempurnaan di bumi. Mengapa orang Kristen sampai beranggapan demikian? Pandangan salah ini bisa muncul disebabkan karena mereka tidak memahami pengertian kesempurnaan menurut Alkitab. Pengertian kesempurnaan yang dipahami oleh mereka sebenarnya serapan dari berbagai pandangan agama dan filsafat dunia, bukan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan.

Banyak orang Kristen beranggapan bahwa hanya di surga di mana tidak ada Iblis -maka juga tidak ada dosa- orang baru bisa berkodrat Ilahi. Dalam hal ini kesucian dipahami sebagai keadaan yang tidak ternoda dosa oleh karena tidak adanya cobaan atau godaan dari Iblis. Mereka berpandangan bahwa selama masih ada Iblis yang mencobai dan menggoda, maka bisa dipastikan manusia akan selalu berbuat dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Dalam hal ini dosa dipandang sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dosa dipandang sebagai kemutlakan yang pasti dialami oleh orang yang hidup di bumi ini. Mereka berpikir bahwa selama masih tinggal dan hidup di bumi, tidak mungkin tidak terpengaruhi oleh dosa. Ini pandangan keliru. Mestinya, sekalipun ada dosa, karena orang percaya bisa berkodrat Ilahi, maka ia bisa tidak berbuat dosa lagi. Dengan demikian cara menanggulangi dosa adalah bagaimana mengalami perubahan kodrat, dari kodrat dosa ke kodrat Ilahi.

Orang percaya yang benar, setiap hari senantiasa berusaha bagaimana mengubah kodrat. Pikiran dan perasaannya selalu disiagakan untuk memperkarakan apakah tindakan-tindakannya, baik yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan benar-benar sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian tidak ada saat di mana dirinya ada di dalam keadaan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Setiap kali merasa ada sesuatu yang salah dalam dirinya, ia selalu melakukan pemberesan segera di hadapan Tuhan, saat itu juga secara langsung. Ini merupakan tugas yang harus ditunaikan di bumi sampai seseorang mencapai keadaan berkodrat Ilahi.

Untuk setiap sikap hati dan gerak pikiran yang salah, setiap saat seseorang dapat menyelesaikan atau melakukan pemberesan secara pribadi dengan Tuhan. Dalam hal ini harus dilakukan secara pribadi dengan Tuhan, sebab tidak seorang pun yang dapat memahami keadaan batin seseorang. Dalam keadaan siaga seseorang dapat selalu menyadari apakah dirinya di tempat yang benar di hadapan Allah atau tidak. Kita harus yakin bahwa selama hidup di dunia kita mampu mencapai kesucian berhubung dengan kodrat dosa di dalam diri kita bisa mengalami proses perubahan terus menerus.Dalam keberadaannya sebagai manusia yang telah memiliki kodrat dosa, kita harus berjuang untuk hidup dalam kesucian.

Kita harus percaya bahwa keselamatan dalam Yesus memungkinkan
manusia mencapai keadaan berkodrat Ilahi.

Itulah sebabnya usaha untuk mengubah diri supaya tidak berbuat dosa lagi, dilakukan dengan cara mengubah kodrat tersebut.