Berkhianat
05 April 2021

Play Audio

Menjadi orang percaya berarti memberi diri kepada objek yang dipercayai. Oleh karenanya, ketika kita mengatakan “Aku percaya Tuhan Yesus,” berarti kita bukan hanya percaya status-Nya sebagai Juruselamat dan Tuhan, melainkan menyerahkan diri kepada-Nya. Implikasinya dalam hidup adalah kita hidup seperti Dia hidup. Percaya kepada Yesus berarti bersedia hidup sama seperti Dia hidup. Percaya di sini berarti kita bersedia mati. Tanpa kematian diri, seseorang tidak dapat memiliki percaya yang benar. Abraham meninggalkan Urkasdim, hidupnya hanya mengikuti petunjuk Tuhan tanpa mengetahui tempat yang dituju. Abraham tidak lagi memiliki dirinya sendiri. Itulah sebabnya kalau seseorang mau mengikut Yesus, ia harus melepaskan segala sesuatu dan rela kehilangan nyawa demi hidup hanya untuk kepentingan Bapa.

Ketika ada orang yang berkata, “Tuhan, aku mau ikut Engkau ke mana pun Engkau pergi,” Tuhan berkata, “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya,” (Mat. 8:19-20). Mengikut Tuhan tidak cukup hanya menjadi orang beragama Kristen. Banyak orang beragama Kristen yang tidak mengikut Yesus. Termasuk majelis, aktivis, juga bahkan tidak mungkin pendeta yang belum mengikut Yesus secara benar. Mengikut Yesus secara benar, berarti kita mengikut jejak hidup-Nya sampai mendarah daging. Kita tidak bisa dimiliki dan memiliki Tuhan Yesus tanpa memiliki karakter-Nya. Inilah harga yang harus dibayar oleh setiap yang menyandang gelar Kristen dalam hidupnya. Jika tidak, maka berarti Kristen palsu.

Kita harus menjadikan hal ini sebagai agenda utama dalam hidup ini; bagaimana kita mengikut Dia. Itu berarti tidak ada topangan lain yang kita harapkan selain Tuhan. Sebagaimana tidak ada yang menopang diri Yesus ketika Ia mengenakan tubuh daging, sehingga prinsip hidup-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Orang mengaku anak Allah harus bertumbuh seperti Kristus, sehingga kodratnya jadi kodrat ilahi. Sebelum kesempatan hidup ini berlalu, kita sudah harus bertumbuh seperti Kristus. Harus diingat bahwa kesempatan hidup hanya satu kali.

Tantangan terbesar untuk mencapai hal ini adalah manusia lama kita yang pada prinsipnya telah lama bersahabat dengan dunia. Sejak kecil, kita menyerap dan meniru cara hidup orangtua serta lingkungan. Tuhan berkata, “Kalau kamu tidak melepaskan segala milikmu, kamu tidak dapat menjadi murid-Ku.” Ini merupakan panggilan untuk melepaskan semua cara hidup lama yang kita warisi. Cara hidup tersebut adalah cara hidup yang berorientasi pada kekayaan dunia agar merasa tenang, terlindungi, dan bahagia. Padahal, orang yang mencari kekayaan dunia agar merasa tenang dan terlindungi serta membangun kebahagiaan, sejatinya ia menolak rencana Allah. Selama kita masih bisa dibahagiakan oleh dunia ini, kita tidak bisa setia kepada Tuhan. Dengan kata lain, kita berkhianat kepada Tuhan.

Pengkhianatan kepada Tuhan juga dapat terjadi kepada aktivis dan rohaniwan seperti pendeta. Ketika masalah pertumbuhan gereja secara kuantitas dan organisasinya menyita perhatian lebih dari pada pertumbuhan kodrat ilahi, sebenarnya mereka sedang berkhianat kepada Tuhan. Gereja yang Tuhan dirikan tidak dimaksudkan untuk mengumpulkan massa yang besar untuk kebesaran nama pendeta dan para aktivisnya. Sejatinya, tidak boleh ada satu pun bendera yang berkibar kecuali bendera Tuhan Yesus. Ketika pelayanan gereja diagungkan sedemikian rupa dengan tujuan terselubung di dalamnya, sebenarnya para hamba Tuhan di dalamnya sedang tidak melayani Tuhan. 

Firman Tuhan dalam 2 Petrus 3:10 berkata, “tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Suatu hari, bumi ini akan sampai pada akhirnya. Kekayaan, kehormatan, gereja yang besar, pangkat, gelar akademik, dan berbagai fasilitas dunia lainnya akan lenyap. Jika semua itu tanpa sadar telah menyedot perhatian orang percaya dan menjadi tujuan hidup, maka hari kedatangan Tuhan benar-benar akan datang seperti bencana. Sebab, orang-orang yang menjadikan semua hal tersebut sebagai tujuan hidup, tidak pernah menjadi sahabat Tuhan. Mereka adalah seteru Tuhan yang pikirannya semata-mata tertuju pada perkara duniawi (Flp. 3:18-19). Oleh karenanya, hendaknya setiap kita berjaga-jaga dengan memeriksa diri. Pastikan, apakah diri kita adalah sahabat Tuhan, atau seteru Tuhan yang sedang berkhianat pada-Nya? Mungkin kita tidak pernah berpindah agama dan terang-terangan memusuhi kekristenan, namun dengan hidup dalam pikiran yang tertuju pada perkara duniawi, tanpa sadar kita telah berkhianat kepada Tuhan. Dan tentu saja dengan demikian kita tidak mengikuti jejak hidup yang telah ditedankan-Nya.