Berkat Abraham, Berkat Kekal
22 January 2021

Play Audio

Berkat Abraham yang dikatakan dalam firman Tuhan bahwa semua bangsa akan diberkati (Kej. 12:1-3), bukan berbicara tentang berkat jasmani, melainkan berkat keselamatan dalam Yesus Kristus; yaitu kembalinya manusia ke rancangan Allah semula. Maka, kita jangan mengartikannya secara duniawi. Tidak sedikit gereja yang bicara mengenai berkat Abraham menunjuk pada berkat materi, ini menyesatkan. Berkat Abraham adalah berkat kekal; yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Jadi, kita tidak boleh menjadi picik, naif, dan dangkal serta miskin dalam pengertian mengenai berkat Abraham. Sekali lagi, asumsinya jangan pada berkat jasmani. Kalau kita melihat keturunan Abraham secara jasmani—secara darah daging, yaitu bangsa Israel—mereka sendiri tidak mengalami kemakmuran secara jasmani seperti bangsa-bangsa lain.

Bangsa-bangsa lain bisa menduduki tanah airnya selama ribuan tahun dan mengalami kejayaan secara materi, sedangkan bangsa Israel tidak. Tahun 1400 SM mereka sampai ke tanah Kanaan—dimana mereka berangkat dari Mesir pada tahun 1440 SM. 700 tahun kemudian, Asyur sudah menaklukkan Israel Utara. Jadi mereka punya waktu 700 tahun. Selama 700 tahun pun tidak mengalami keadaan yang makmur, berkali-kali terjadi perang, dikuasai oleh bangsa lain atau ditekan oleh bangsa lain. Kemudian sekitar 1200 tahun kemudian, Israel bagian selatan juga dihancurkan oleh Babel. Jadi, mereka sebenarnya tidak lama menikmati negeri mereka; hanya sekitar 700 tahun sampai 900 tahun. Sebab pada tahun 586 SM, Babel menjatuhkan Yehuda. Dan yang paling tragis adalah pada tahun 70 SM ketika Jendral Titus datang dari Roma menghancurkan Yerusalem, sampai Bait Suci yang dibangun ulang pun dihancurkan.

Sejak itu bangsa Israel tidak memiliki tanah air atau negara. Jadi, sekitar 2500 tahun bangsa Israel tidak memiliki tanah air, mereka tercerai-berai—atau istilahnya diaspora—ke seluruh dunia. Baru kemudian tanggal 14 Mei 1948, negara Israel modern berdiri. Bangsa Israel ini merupakan bangsa yang luar biasa penderitaannya. Bahkan sebelum negara Israel berdiri—tahun 1939-1945 Perang Dunia ke-2 meletus— enam juta orang Yahudi dibantai, yang dalam sejarah dikenal sebagai peristiwa holocaust. Lalu berkat Abrahamnya—jika hal materi—di mana? Tidak ada atau sedikit sekali. Kalau dibandingkan dengan negeri China, ribuan tahun mereka memiliki negerinya sendiri. Hanya beberapa tahun saja Jepang pernah datang dan menguasai sebagian kecil wilayah dari China. Oleh sebab itu, kalau kita pergi ke China, ada begitu banyak peninggalan sejarah bangsa itu. Sedangkan kalau kita ke Israel, tidak banyak peninggalan sejarah bangsa itu. Negeri itu hanya penuh dengan tapak tilas dari Yesus dan tokoh-tokoh iman sehingga menarik. Namun, secara budaya kalah jauh dibandingkan dengan China, yang mana bisa menjadi objek wisata yang sangat menarik.

Jadi, bicara mengenai berkat Abraham, jangan diasumsikan sebagai berkat jasmani. Berkat Abraham adalah keselamatan dalam Tuhan Yesus, berkat kekal. Bagaimana kita bisa memiliki berkat Abraham? Kita harus hidup seperti Abraham, artinya kita harus memiliki iman seperti Abraham. Abraham hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Ibrani 11:8 mengatakan: “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” Luar biasa! Walaupun ia tidak tahu negeri itu di mana, ia taat saja dan apa pun yang diperintahkan oleh Elohim Yahweh, Allah Israel, dia lakukan tanpa berbantah. Pertanyaannya bagi kita, apakah kita memiliki kehidupan seperti ini, taat kepada Tuhan apa pun yang diperintahkan? Jangankan taat, jangan-jangan kita tahu saja belum, apa yang Tuhan mau.

Kita jangan berpikir bahwa sebagai orang Kristen, kita cukup menjadi orang baik secara hukum moral umum. Kalau hanya begitu, tidak usah kita menjadi Kristen. Agama lain juga memiliki hukum-hukum yang secara moral umum mengajarkan kebaikan dan mereka harus menjadi baik. Namun kalau orang Kristen, kita harus mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak Allah. Sampai pada perintah-perintah yang sangat rumit, yang mungkin hanya diterima oleh orang itu sendiri, tidak diterima oleh orang lain. Masalahnya, jangankan melakukan kehendak Allah, kita mengerti pun tidak. Abraham tidak melakukan hukum—karena saat itu memang belum ada hukum—tetapi setiap perintah Allah, ia lakukan. Itulah iman. Kalau kita hanya menjadi orang baik, itu belum beriman. Iman itu melakukan apa pun yang Allah kehendaki. Jadi harus mengerti kehendak Allah dalam hidup kita secara khusus yang mana masing-masing orang memiliki kekhususan atau kekhasan. Namun, bukan hanya mengerti apa kehendak Allah, melainkan juga melakukannya.

Seperti Abraham meninggalkan Ur-Kasdim lalu hanya mengarahkan diri ke negeri yang akan ditunjukkan kepadanya. Kita juga harus begitu, meninggalkan dunia ini dengan segala kesenangannya dan fokus ke langit baru bumi baru. Walaupun kita belum menginjak negeri itu tetapi kita percaya, dan selama kita hidup di dunia ini kita hanya melakukan apa pun yang Allah perintahkan. Kurang dari ini, berarti bukan beriman. Jadi, salah kalau orang Kristen berpikir sudah selamat hanya dengan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, itu keliru. Percaya kepada Yesus itu bukan mengakui status-Nya saja, melainkan melakukan apa pun yang Ia kehendaki. Artinya, kita harus mengerti kehendak Tuhan dan melakukan kehendak Tuhan tersebut. Inilah sulitnya menjadi orang Kristen. Hal keselamatan, seperti yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ketika ada orang bertanya: “Sedikitkah saja orang yang diselamatkan?” Yesus menjawab: “Berjuanglah masuk ke jalan sempit karena banyak orang yang berusaha, tetapi tidak masuk.” Keselamatan itu sukar, sulit. Pertaruhannya adalah segenap waktu, tenaga, dan hidup kita tanpa batas. Kalau kita belum melakukannya, berarti kita belum pernah memiliki keselamatan itu.