Berjuang Menjadi Anak-Anak Allah Yang Sah
25 August 2019

Ternyata untuk menjadi anak-anak Allah yang sah juga perlu perjuangan. Ini adalah tatanan Allah. Kalau kita berbicara mengenai anak-anak Allah, perlu kita meninjau Yohanes 1:12 bagi mereka yang percaya, diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. “Kuasa” itu dari teks aslinya exousia (ἐξουσία), yang artinya hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa menjadi anak-anak Allah. Fasilitas itu adalah pemeliharaan Tuhan, Roh Kudus, Firman, dan penggarapan intensif Allah atas orang yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). Jadi kuasa itu tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak-anak Allah. Tetapi kuasa itu diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah. Jadi kalau seseorang tidak memanfaatkan kuasa itu, maka seseorang tidak pernah menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti berkarakter seperti Allah; Like father like son. Panggilan sebagai orang percaya hanya ini: Menjadi serupa dengan Bapa (Mat. 5:48; 1Ptr. 1:17). Tentu saja orang yang tidak memiliki karakter seperti Bapa tidak pantas menyebut dirinya sebagai anak-anak Allah. Ciri dari orang Kristen yang sah sebagai anak-anak Allah adalah ketika ia memiliki karakter Bapa. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak sembarangan menunjuk seseorang sudah menjadi anak-anak Allah.

 

Jadi, pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak-anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak-anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos yang artinya anak yang belum atau tidak sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu, maka ia akan bertumbuh menjadi anak-anak Allah yang sah. Jika tidak, maka ia tidak akan bertumbuh. Ciri dari nothos adalah tidak mau dihajar dan diajar Bapa (Ibr. 12:7-9). Dalam hal ini respon seseorang terhadap keselamatan yang Tuhan berikan sangat penting. Artinya, tanpa respon, seseorang tidak akan menjadi anak-anak Allah yang sah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Berjuanglah melalui pintu yang sesak” (Luk. 13:24).

 

Paulus juga berkata: “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Flp. 2:2-13). Semua itu tidak boleh diperhitungkan sebagai jasa seolah-olah seseorang bisa menjadi anak-anak Allah sebagai hasil usahanya. Usaha manusia bagaimana pun kerasnya, tidak bisa menyelamatkan dirinya tanpa salib Kristus. Jadi usaha untuk disahkan sebagai anak-anak Allah hanyalah respon terhadap keselamatan yang Tuhan sediakan. Ini adalah tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh setiap orang Kristen. Tentu saja perjuangan ini bukanlah dinilai sebagai jasa, sebab kalau Yesus tidak mati di kayu salib, tidak ada pintu anugerah sama sekali. Jadi, “mengerjakan keselamatan” dengan takut dan gentar adalah respon terhadap anugerah, bukan usaha untuk mencapai atau memiliki keselamatan dengan usaha manusia sendiri.

 

Alkitab menulis bahwa semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (Yoh. 1:12). Kata “menerima” di dalam teks ini, bahasa aslinya adalah elabon (ἔλαβον) dari akar kata lambano (λαμβάνω) yang selain berarti menerima (to accept), juga berarti to get hold of (berpegang tetap). Kata ini bisa menimbulkan berbagai penafsiran. Tetapi pada umumnya banyak orang Kristen berpikir bahwa kalau mulutnya sudah mengaku Yesus adalah Tuhan dan hatinya merasa percaya, berarti ia sudah menerima Dia. Kemudian ia merasa bahwa dirinya sudah selamat. Ini tidak benar. Pertanyaan yang patut dilontarkan adalah apakah Tuhan Yesus sudah merasa dan mengakui bahwa orang tersebut telah menerima Dia? Ingat, banyak orang merasa sudah mengenal Tuhan Yesus dan merasa pasti diterima oleh Dia, ternyata ditolak (Mat. 7:21-23).

 

Hendaknya kita tidak menyederhanakan kata “menerima” dalam Yohanes 1:12 ini. Sebagai ilustrasi, apakah kalau seorang mempelai wanita berkata kepada mempelai pria: Aku menerima engkau sebagai suamiku, berarti wanita itu telah menerima suaminya? Apakah janji nikah dalam lima detik menjadi ukuran penerimaannya? Tentu tidak, tetapi tahun-tahun panjang dalam hidupnya akan membuktikan apakah wanita itu menerima pria tersebut sebagai suaminya secara benar atau sebaliknya. Demikian pula ketika seseorang dalam suatu kebaktian kebangunan rohani atau dalam pelayanan pribadi menyatakan bahwa ia mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hal ini bukan berarti bahwa ia telah menerima Tuhan Yesus dengan benar. Perjalanan Kekristenannya yang akan menentukan.