Berjuang Memahami Tindakan Tuhan
27 June 2018

Dalam kasus Nikodemus dan Paulus dapatlah diambil kesimpulan bahwa seseorang meresponi anugerah Tuhan tidak lepas dari latar belakangnya. Tentu latar belakang seseorang juga tidak lepas dari respon-responnya terhadap setiap peristiwa yang dialami, segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya. Tentu saja Tuhan yang adil tidak akan berniat menggiring seseorang kepada kebinasaan dan yang lain kepada keselamatan kekal. Dalam hal di atas tersebut, jelaslah bahwa Tuhan tidak berintervensi ke dalam jiwa manusia secara mutlak dan mengendalikan secara penuh sehingga pilihan dan keputusan seseorang berdasarkan skenario Tuhan. Tetapi masing-masing individu bertanggungjawab dalam mengambil keputusan dari kehendak bebasnya. Jadi, sangatlah keliru kalau seseorang berpendapat bahwa Tuhan memilih Paulus, tetapi tidak memilih Nikodemus. Tuhan memaksa Saulus bertobat, tetapi tidak memaksa Nikodemus bertobat. Dalam keadilan Tuhan, Ia bertindak sesuai dengan porsi dan keadaan masing-masing individu.

Fakta yang dapat dilihat, banyak orang-orang beragama meyakini bahwa Allah secara mistis atau ajaib mengubah jiwa seseorang secara mendadak (instant). Kisah-kisah seperti ini ada dalam banyak legenda dan mitos. Hal ini bisa dimengerti sebab dalam hampir semua agama terdapat keajaiban-keajaiban yang diyakini dilakukan oleh allah atau dewa yang disembah. Tidak ada agama yang menyembah Allah yang transenden tanpa hal-hal yang bersifat keajaiban dan mistis. Pemikiran mengenai pribadi ilah atau dewa yang disembah yang bersifat misteri sudah mengakar dalam pikiran banyak orang. Seakan-akan dalam kedaulatan tingkat tertentu atau tidak terbatas dari ilah atau dewa mereka, dewa-dewa atau ilah mereka bisa bertindak semaunya tanpa dimengerti oleh umat. Umat hanya menerima saja tanpa harus mengerti dan mempersoalkan alasannya.

Mereka pun pada umumnya menerima saja hal tersebut, sebab bagi mereka yang penting illah atau dewa mereka memberi kontribusi yang umat ingini dalam kehidupan di dunia ini. Illah atau dewa mereka biasanya juga dipandang tidak terlalu mempersoalkan bagaimana gaya hidup umat. Hal ini berbeda dengan keadaan umat Tuhan, Tuhan sangat mempersoalkan gaya hidup mereka, sebab umat di bumi hanya dipersiapkan untuk memasuki Kerajaan Surga, sebagai anggota keluarga Allah. Itulah sebabnya orang percaya harus menjadi seperti diri Tuhan sendiri. Tidak ada agama -selain Kristen- yang mengajarkan bahwa umat harus berkarakter seperti Allahnya.

Tuhan memang transenden, tetapi tindakan-tindakan-Nya pasti memuat kebenaran atau hikmah yang dapat dimengerti dan dapat menuntun umat Tuhan kepada kehendak dan jalan-Nya, sebab Tuhan yang transenden berurusan dengan manusia yang imanen (berada dalam jangkauan kesadaran dan akal manusia yang terbatas). Itulah sebabnya, Allah turun menjadi manusia agar dapat memberi petunjuk dengan jelas bagaimana manusia menyelenggarakan hidupnya. Tuhan Yesus menyatakan bahwa tidak seorang pun mengenal Bapa, selainAnak, dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya (Mat. 11:27). Pengetahuan mengenai Bapa dan Anak maksudnya adalah bagaimana umat menempatkan diri dengan benar di hadapan Tuhan dan menempatkan Tuhan di tempat yang pantas dalam hidup ini. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak bermain teka-teki yang rumit dan tak terpahami dalam berurusan dengan umat.

Hendaknya jangan karena Tuhan adalah Tuhan yang transenden, maka dalam memahami tindakan Tuhan yang berkenaan dengan manusia juga serba transenden. Tindakan Tuhan menyangkut keadaan manusia di bumi ini -apalagi keadaan di kekekalan nanti- harus dimengerti bukan sebagai sesuatu yang misteri. Tuhan pasti menyatakan kebenaran dari kehendak-Nya, dan umat harus berjuang untuk memahaminya dengan benar. Sebab kalau tindakan Tuhan yang berkenaan dengan kehidupan umat-Nya seperti teka-teki yang tidak bisa dipahami, maka umat berjalan dalam gelap. Umat tidak tahu dengan tepat bagaimana harus bersikap terhadap Tuhan. Hal ini sangat mengerikan. Tuhan yang Maha Bijaksana tidaklah demikian. Walaupun Ia transenden, tetapi tindakan-tindakan-Nya pasti dipahami oleh umat yang juga adalah anak-anak-Nya. Oleh sebab itu, sebagai umat dan anak-anak-Nya, kita harus mengerti apa, bagaimana dan mengapa Allah melakukan suatu tindakan, sebab umat harus sempurna seperti Bapa.

Kekristenan adalah jalan hidup yang luar biasa. Alkitab yang menjadi “the way of life” umat pilihan, menyajikan Allah yang transenden tetapi dalam berurusan dengan manusia yang imanen, tindakan-Nya pasti memuat kebenaran yang memberi pelajaran, agar manusia yang hidup kemudian hari setelah zaman Alkitab ditulis dapat menempatkan diri dengan benar di hadapan Tuhan, dan memperlakukan Tuhan secara benar. Jadi ajaran yang mengajarkan bahwa tindakan Tuhan tidak bisa dimengerti -karena Tuhan berdaulat (khususnya dalam menentukan manusia yang selamat)- bukanlah pengajaran yang sesuai dengan nafas kebenaran Alkitab. Pengajaran ini tidak mendorong secara proporsional kepada umat untuk mencari Tuhan agar memiliki pengenalan yang benar; dimana pengenalan tersebut sangat menentukan kualitas hidup dan relasinya dengan Tuhan serta respon-responnya terhadap Tuhan dan tindakan-Nya. Hal ini sangat menentukan kualitas dari iman dan proses perubahan karakter yang dialami seseorang.