Berdampak pada Kekekalan
27 December 2020

Play Audio Version

Kekristenan kita belum lengkap sampai tujuan, sebelum kita sampai pada pengalaman hidup “tinggal di dalam Dia.” Ini doa Tuhan Yesus dalam Yohanes 15:4; 17:21. Kekristenan bukanlah sekadar agama yang melengkapi kehidupan manusia di bumi, melainkan jalan hidup yang mengubah manusia dari kodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi agar hidup di hadirat Allah. Dalam Injil Yohanes 14:6, Yesus menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya jalan sampai kepada Bapa. Bukan saja masuk surga melainkan hidup di hadirat Allah. Banyak orang bertahun-tahun beragama Kristen dengan pergi ke gereja, menjadi majelis, bahkan menjadi pejabat sinode seperti pendeta, tetapi ternyata tidak bertumbuh mengalami perubahan kodrat sehingga tidak pernah mengerti hidup di hadirat Allah. Hadirat Allah lebih penting dari segala sesuatu. Jika seseorang tidak berani menjadikan ini sebagai satu-satunya agenda hidup, berarti ia gagal sebagai orang percaya. Orang-orang seperti ini pasti tidak berani melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33). Inilah satu-satunya isi perjuangan orang yang dipanggil sebagai umat pilihan, sebagai perlombaan yang wajib, yaitu mengambil bagian dalam kekudusan Allah agar dapat hidup di hadirat-Nya (Ibr. 12:9-10).

Jadi, maksud menjadikan tubuh kita bait Roh Kudus, bukan hanya tubuh didiami oleh Roh Kudus. Kalau bait suci Salomo didiami Roh Allah, artinya Roh Allah hadir di bait Allah tersebut, tetapi di sana tidak ada hubungan interaksi antara Allah dengan bait suci, sebab bait suci bukan pribadi. Bait suci adalah benda. Tetapi kalau Roh Allah diam di dalam kita, berarti ada satu kegiatan percakapan yang berlangsung terus-menerus, yaitu hubungan interaksi dengan Tuhan di dalam diri kita. Bapa menghendaki hubungan yang mendalam dengan kita. Hubungan yang mendalam, yang di dalamnya terdapat dialog dengan Tuhan ini, tidak ada batasnya, sampai nanti kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Orang-orang seperti ini tentu senantiasa menghayati kehadiran Tuhan dalam hidupnya, dan bisa hidup di hadirat Allah.

Karena Tuhan tinggal di dalam kita, melalui Roh-Nya, maka percakapan dengan Tuhan tidak dibatasi ruang dan waktu. Di mana kita ada, Tuhan juga berada. Ia selalu beserta di dalam kita. Sebuah perjumpaan tiada henti, sebuah hubungan interaksi tiada putus. Di sinilah letak nafas kehidupan. Kalau kita pernah mendengar bahwa doa adalah nafas rohani, doa di sini bukan hanya kegiatan pada waktu kita berlutut dan melipat tangan mengucapkan kalimat doa, melainkan doa adalah percakapan setiap waktu di mana pun kita berada dan kapan saja. Orang percaya harus menjadi satu dengan Tuhan dalam ikatan yang bersifat permanen. Inilah yang dikatakan di dalam 1 Korintus 12:17, menjadi satu roh dengan Tuhan. Orang percaya harus sungguh-sungguh dalam perjuangan mencapai level “menyatu dengan Tuhan.” Ini adalah kebutuhan yang tidak bisa digantikan dengan apa pun juga. Dengan demikian, seseorang baru bisa hidup di hadirat Allah.

Banyak orang beragama yang memercayai Allah, tetapi tidak sungguh-sungguh mengalami Tuhan, apalagi hidup di hadirat Allah. Sebenarnya, ada dua jenis pengalaman dengan Tuhan. Pertama, pengalaman dengan Tuhan yang berkualitas tinggi. Kedua, pengalaman dengan Allah yang berkualitas rendah. Mengemukakan hal ini bukan berarti ada pengalaman dengan Allah yang bisa dianggap remeh atau tidak berkualitas, sehingga kita memandang rendah. Mengalami Allah dengan kualitas tinggi adalah kehidupan orang percaya di hadirat Allah dalam proses pendewasaan agar orang percaya semakin dapat memiliki hubungan yang ideal dengan Allah. Semakin seseorang dewasa rohani, semakin ideal hubungannya dengan Allah. Tidak banyak orang yang sungguh-sungguh telah mengalami Allah dengan kualitas tinggi. Hal ini hanya terjadi atas orang-orang yang dengan sepenuh hati mengasihi Allah dan berusaha untuk melakukan kehendak Allah. Pengalaman-pengalaman dengan Allah yang berkualitas tinggi ini menyempurnakan hidup seseorang untuk dapat mencapai kehidupan yang sesuai dengan rancangan Allah semula.

Semua pengalaman hidup merupakan sarana Allah Bapa mendewasakan atau menyempurnakan anak-anak-Nya. Pengalaman yang berkualitas tinggi dengan Allah Bapa ini, termasuk di dalamnya peristiwa-peristiwa yang Dia izinkan terjadi dalam kehidupan, yang melaluinya Allah Bapa mendidik. Adapun pengalaman dengan Tuhan yang berkualitas rendah biasanya berkenaan dengan hal-hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani; seperti mengalami mukjizat kesembuhan, jalan keluar dari persoalan ekonomi, terhindar dari malapetaka, dan lain sebagainya. Dikatakan ‘rendah’ bukan berarti boleh diremehkan, melainkan pengalaman tersebut tidak terkait langsung dengan kekekalan, atau bisa tidak berdampak pada kekekalan, yaitu membawa ke langit baru dan bumi baru sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah.