Bercampur Pikiran Manusia
14 November 2020

Play Audio Version

Ciri-ciri dari penyesatan melalui pengajaran dapat dikenali melalui beberapa hal, salah satunya adalah: ajaran yang sesat pasti melemahkan otoritas Alkitab dengan mengabaikan pendalaman Alkitab yang menjadi dasar pengajaran atau doktrin Kristen. Hal ini mengingatkan kepada mereka yang mengajarkan bahwa doktrin dan pandangan teologis seakan-akan sudah sejajar dengan Alkitab. Ajaran yang efektif di masa lalu, bisa tidak efektif di masa yang lain atau di waktu yang berbeda. Harus selalu diingat bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi. Zaman bisa berubah dan berdinamika tiada henti, tetapi kebenaran Alkitab adalah kebenaran mutlak, yang menjadi kebenaran satu-satunya. Karena Alkitab adalah satu-satunya kebenaran, maka kita tidak boleh mengawinkan kebenaran Alkitab dengan filosofi mana pun. Alkitab harus menjadi landasan hidup satu-satunya, dan kita juga harus berpusat atau berepisentrum pada pengajaran Yesus dan kehidupan-Nya yang harus kita teladani.

Bagi seorang pengajar, yang dibutuhkan bukan saja bagaimana menafsirkan ayat-ayat Alkitab sesuai dengan kaidah-kaidah hermeneutik dan eksegesis, tetapi juga relasi dengan Allah, sehingga dapat seseorang mendengar pesan-pesan Allah untuk generasinya. Kalau seorang teolog atau pembicara di mimbar membuka hati terhadap cara berpikir anak-anak dunia—yaitu mencintai dunia dan hidup dalam kewajaran seperti anak-anak dunia lainnya—maka tidak mungkin ia dapat menemukan kebenaran yang murni. Mereka menjadi kelompok yang sebenarnya salah mengolah kebenaran Alkitab. Kita harus benar-benar waspada bahwa pemikiran yang bukan berasal dari Allah adalah dari Iblis.

Dewasa ini, banyak pembicara atau pengkhotbah yang melandaskan pemikirannya seakan-akan pada Alkitab, tetapi mereka mencampurnya dengan pemikiran manusia. Sama seperti Hawa yang mengubah pernyataan Allah. Memang tidak semua pendeta atau teolog bermaksud mengubah isi Alkitab dan sengaja mau menyesatkan orang lain, tetapi oleh karena mereka hidup dalam kewajaran anak dunia, maka pikiran Iblis disusupkan di dalam teologinya. Dalam hal ini, jemaat harus menguji roh dengan saksama. Menguji roh sama artinya dengan menguji pengajaran yang disampaikan, apakah berasal dari Alah secara murni atau bukan.

Hendaknya kita tidak mengenali ajaran sesat hanya pada kelompok tertentu yang selama ini memang dinyatakan sebagai bidat oleh banyak orang. Bisa dikatakan penyesatan, kalau pengajaran tidak membawa manusia dikembalikan ke rancangan Allah semula, serta tidak mengajarkan untuk meninggalkan percintaan dunia dan tidak berfokus kepada langit baru dan bumi. Bahaya yang lebih besar sekarang ini datang dari gereja yang dianggap benar, tetapi justru menghadirkan “pikiran-pikiran” yang bukan dari kebenaran Alkitab yang murni. Hal ini tidak menggiring iman Kristen kepada kesetiaan yang sejati kepada Kristus (2Kor. 11:2-4). Termasuk gereja-gereja yang hanya mendaur ulang teologi masa lalu, yang hanya bersifat olah nalar. Biasanya, teolog-teolog tersebut tidak berperkara dengan Allah untuk mendengar pesan Allah bagi generasinya. Mereka menganggap bersentuhan dengan Allah adalah hal subjektif dan “bersifat mistis.” Dengan cara ini, Iblis menyesatkan mereka dan orang yang mendengar ajarannya.

Kita membutuhkan prinsip-prinsip kebenaran Tuhan yang diangkat dari Alkitab melalui proses pendalaman, berdasarkan kaidah-kaidah hermeneutik dan eksegesis dalam tuntunan Roh Kudus, dengan hati yang bersih dan tidak mencintai dunia serta dalam perjumpaan dengan Allah setiap hari. Inilah dasar bangunan hidup kekristenan yang benar. Kebenaran Firman Tuhan tidak boleh digantikan dengan pengajaran yang hanya bernuansa doktrinal, kegiatan sosial, atau pelayanan yang menekankan pada karunia-karunia roh semata-mata, serta mukjizat. Jika gereja menyisihkan kebenaran Firman Tuhan dari tempatnya, berarti gereja telah terkena perangkap Iblis. Penyesatan yang dikerjakan oleh Iblis memiliki tujuan untuk membutakan mata rohani seseorang agar tidak mengalami realisasi dari keselamatan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Hal ini ditandai dengan kehidupan orang percaya yang tidak berbeda dengan orang lain yang bukan umat pilihan.

Banyak orang Kristen yang sebenarnya sesat tetapi tidak menyadari kesesatannya tersebut. Mereka mau hidup secara wajar seperti manusia lain yang terikat dengan kesenangan dunia, yaitu harta, kedudukan, kehormatan, dan berbagai keinginan daging. Orang-orang yang tertawan oleh keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup adalah orang-orang yang ada dalam pengaruh kuasa gelap (1Yoh. 2:15-16). Sejatinya, banyak orang Kristen yang hidup dalam keadaan seperti ini, tetapi mereka sama sekali tidak menyadari keadaan tersebut. Dalam hal ini, kita dapat melihat betapa cerdiknya setan atau Iblis mengelabui dan menyesatkan orang Kristen. Kehidupan orang-orang seperti ini tidak bisa ditolerir, sebab mereka yang memiliki kehidupan seperti ini, pasti ditolak oleh Allah.