Berbasis Kehidupan yang Akan Datang
25 December 2020

Play Audio Version

Setiap orang berpikir dan bertindak berdasarkan filosofi hidupnya. Bagi orang beragama, berdasarkan ajaran yang diyakininya sebagai kebenaran. Kebenaran yang diyakini melahirkan berbagai model atau gaya hidup, sebab kebenaran yang diyakini tersebut membangun suatu basis berpikir. Basis artinya asas, dasar. Kalau dalam dunia militer, basis menunjuk pangkalan tempat pasukan atau tentara mulai melakukan operasi menggempur musuh, atau bertahan menghadapi serangan musuh. Basis biasanya merupakan tempat di mana ada gudang persenjataan dan persediaan logistik serta tentara dikumpulkan. Adapun “berbasis,” artinya menjadikan sesuatu sebagai basis. Artinya sebagai pijakan dalam berpikir. Hal ini yang membentuk gaya hidup dan dasar dalam melakukan segala tindakan. Dengan demikian, basis berpikir ini menentukan kualitas hidup seseorang di hadapan Allah dan menentukan kekekalannya. Ada 2 basis berpikir dalam kehidupan manusia. Pertama, basis berpikir pada kehidupan di dunia hari ini di bumi. Kedua, basis berpikir pada kehidupan yang akan yang datang di langit baru dan bumi baru nanti.

Bagi orang percaya atau umat pilihan, harus menentukan atau memilih hanya satu basis, tidak boleh dan memang tidak bisa berpijak pada kedua-duanya. Umat pilihan diproyeksikan oleh Allah untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan, anak-anak Allah yang akan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus dan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus di dalam Kerajaan-Nya. Itulah sebabnya, orang percaya harus berbasis pada dunia yang akan datang seperti Yesus. Ketika Yesus dibawa ke atas gunung dan ditawari keindahan dunia, Yesus dibujuk untuk memiliki basis berpikir dunia hari ini. Yesus memiliki dunia yang akan datang, Kerajaan Bapa, di mana diri-Nya akan menjadi Raja dalam ketertundukan kepada Allah Bapa. Yesus menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa.

Dunia di mana penghuninya tidak hidup dalam ketertundukan mutlak kepada Allah, bukanlah surga. Surga memiliki dua pengertian. Pertama, lokasi dan sarana. Kedua, suasana atau atmosfer, dimana ada ketertundukan mutlak atau hidup dalam pemerintahan Allah. Kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu,” bukanlah dalam arti pertama, melainkan kedua, yaitu menghadirkan pemerintahan Allah atau hidup dalam ketertundukan mutlak. Keindahan yang diciptakan sempurna menjadi rusak ketika pemerintahan Allah tidak diselenggarakan. Nanti di langit baru dan bumi baru, keindahan dunia ini diulang dalam suasana pemerintahan Allah. Menjadi anak-anak Allah yang tinggal di Kerajaan di mana setiap insan ada dalam ketertundukan kepada Allah Bapa adalah rencana kekal dan besar Allah sejak dunia diciptakan. Oleh karenanya, Allah memberi keselamatan di dalam atau melalui Yesus Kristus. Dari hal ini, bisa dimengerti mengapa dalam Efesus 1:4-5 firman Tuhan mengatakan: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.”

Pada umumnya, agama-agama dan kepercayaan masih berbasis pada kehidupan hari ini, walaupun tentu saja kehidupan di surga menjadi pengharapan setelah mati atau di balik kuburnya. Tetapi, pada dasarnya tidak menjadi basis berpikir satu-satunya. Paling tidak, mereka berjejak pada dua basis berpikir tersebut. Tentu saja ada sebagian mereka yang berbasis di dunia yang akan datang, tetapi tidak memiliki kejelasan seperti yang Alkitab Perjanjian Baru ajarkan. Seperti misalnya agama Yahudi yang berbasis pada dunia hari ini. Orientasi kehidupan mereka masih terletak di dunia. Kehidupan keberagamaan bangsa Israel masih berbasis pada dunia ini, di bumi. Itulah sebabnya, yang mereka persoalkan adalah tanah yang berlimpah susu dan madu, kejayaan kerajaan Israel, kelimpahan materi, dan segala sesuatu yang masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani.

Ketika Yesus berkata: “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,” sebenarnya maksud perkataan Yesus tersebut adalah bahwa orang percaya harus berbasis pada kehidupan di dunia yang akan datang (Mat. 6:33). Sebelum mengucapkan kalimat ini, Yesus berbicara mengenai fokus atau orientasi hidup (Mat. 6:19-21), yaitu agar orang percaya menyeberangkan hatinya di surga. Dalam Matius 6:19-21 tertulis: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Banyak orang Kristen yang pikirannya belum diseberangkan ke surga, padahal jelas sekali Yesus berkata di mana ada harta seseorang, di situ hatinya berada. Pernyataan Yesus ini sebenarnya berbicara mengenai basis berpikir. Orang yang masih berbasis pikiran di dunia ini tidak akan bisa hidup di hadirat Allah.