Berbakti Yang Benar
08 February 2019

Kemurahan Allah yang diberikan kepada orang percaya, ternyata memuat atau mengandung resiko atau konsekuensi. Setelah menerima kemurahan Allah, orang percaya memiliki tanggung jawab untuk mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus dan yang berkenan. Inilah yang disebut sebagai ibadah yang sejati. Hal ini harus dimengerti dan diterima oleh semua orang percaya. Maksud ibadah di sini bukan saja kita memberi sesuatu kepada Tuhan, baik dalam berupa uang atau apa pun. Tetapi kesediaan untuk berupaya untuk mengalami proses perubahan. Di sini sebenarnya kunci kehidupan orang percaya. Oleh sebab itu orang percaya hendaknya tidak berpikir, kalau sudah pergi ke gereja berarti sudah memenuhi panggilannya sebagai orang percaya atau sudah berbakti kepada Tuhan. Harus dipahami, bahwa kebaktian di gereja mengikuti liturgi tidak sama artinya dengan beribadah atau berbakti kepada Tuhan secara benar atau dianggap sebagai ibadah yang sejati. Kita tidak boleh memiliki cara berpikir seperti cara agama-agama pada umumnya, yaitu mereka yang tidak mengenal kebenaran di dalam Injil. Biasanya mereka merasa sudah beribadah kepada dewa, ilah atau alah yang mereka sembah, karena sudah melakukan suatu ritual atau seremonial.

Sesungguhnya, ibadah kepada Tuhan atau kebaktian yang benar kepada Allah tidaklah demikian. Ibadah yang sejati atau kebaktian yang benar adalah ketika seseorang mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah, serta berkeadaan pola berpikir yang tidak sama dengan dunia ini (Rm. 12:1-2). Kata beribadah dalam Roma 12:1 adalah latreia (λατρεια), yang lebih berarti “melayani.” Kata ini juga digunakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4:8, ketika Yesus menangkis bujukan Iblis untuk mengingini dunia ini. Yesus berkata: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Kata berbakti dalam ayat ini, sama dengan kata “ibadah” dalam Roma 12:1.

Mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus, dan yang berkenan kepada Allah memiliki makna bahwa tubuh kita harus digunakan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Tubuh kita bukan untuk kesenangan diri sendiri apalagi untuk memuaskan keinginannya, tetapi menjadi berguna bagi penggenapan rencana Allah di dunia ini. Kalau orang percaya bekerja menggunakan tubuh, hal tersebut dilakukan untuk kepentingan Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, menjadi tanggung jawab setiap individu untuk mengembangkan potensi di dalam dirinya, agar tubuhnya bisa efektif bagi pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini, kemalasan adalah suatu dosa; sebab orang malas membuat dirinya tidak efektif bagi Tuhan dan tidak bertanggung jawab kepada-Nya secara benar.

Dengan penebusan oleh darah Yesus, maka tubuh kita bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Tuhan yang memiliki tubuh kita secara penuh. Sebenarnya, kita tidak lagi memiliki keberhakkan atas tubuh kita ini. Harus dimengerti bahwa konteks 1 Korintus 6:12-20 adalah mengenai dosa percabulan. Di dalamnya Paulus mengajar kita untuk menjadi satu roh dengan Tuhan (1Kor. 6:17). Untuk menjadi satu roh dengan Tuhan, tubuh kita harus kudus. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan dalam 2 Korintus 6:17-18, Sebab itu: “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka …” Dalam teks ini orang percaya dipanggil untuk keluar dari kehidupan yang tidak sesuai kehendak Allah, sejak di dunia ini dan dalam pergaulan di bumi. Dengan penebusan oleh darah Yesus, maka tubuh kita adalah Bait Roh Kudus. Allah berkenan hadir dalam hidup kita, menyatu dengan kita dalam persekutuan setiap saat. Itulah sebabnya, tidak bisa tidak, tubuh yang kita kenakan ini tidak boleh dicemari dosa sama sekali. Dosa yang dilakukan dengan tubuh ini merupakan tindakan tidak menghormati Tuhan. Idealnya, orang yang telah ditebus oleh darah Yesus berani menyatakan seperti yang dikatakan Paulus: “Hidupku bukan aku lagi” (Gal. 2:20).

Persembahan yang berkenan artinya, bahwa seluruh tindakan hidup kita dengan tubuh ini selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dalam hal ini, seluruh penggunaan tubuh harus sesuai dengan kehendak Roh Kudus. Hal ini dapat dilihat dengan jelas melalui tulisan Paulus dalam 1 Korintus 6:19-20, “…atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Dengan tubuh kita dibeli oleh Tuhan Yesus, maka hanya Dia yang berhak menggunakan sesuai dengan kehendak-Nya, jika tidak maka berarti memberontak.