Berasal Dari Allah Sendiri
04 November 2019

Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Maksudnya, manusia tidak memiliki kehidupan tepat persis seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Keadaan manusia seperti ini adalah keadaan manusia yang pasti tidak dapat memiliki fellowship dengan Allah sebagai Bapa. Ini berarti sebuah kehidupan yang meleset atau tidak sesuai dengan rancangan Allah semula dalam menciptakan manusia. Allah tidak menghendaki kehidupan seperti ini, sebaik apa pun keadaan orang tersebut di mata manusia. Dalam hal ini, orang percaya harus memahami bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat secara mutlak dan absolut. Kehendak-Nya harus dituruti secara penuh atau sempurna, mutlak, dan absolut. Dengan keadaan manusia yang benar, kedua belah pihak—antara Allah dan manusia—dapat saling mengisi. Allah berkehendak untuk menikmati manusia sebagai anak-anak-Nya dengan standar “kenikmatan” yang dikehendaki oleh Dia.

Ketika manusia pertama tidak mencapai standar yang Allah inginkan, Allah mengusir Adam dari Taman Eden. Sekilas, hal ini mengesankan bahwa Allah adalah pribadi yang kejam dan sewenang-wenang. Namun, sebenarnya tidak demikian sebab Allah menghendaki persekutuan yang eksklusif. Akan tetapi, Adam tidak memenuhi standar sehingga ia harus undur dari hadapan Allah. Allah berhak bertindak demikian. Namun sebelum hal itu terjadi, Allah sudah memberi peringatan. Ini seperti sebuah perjanjian antara Allah dengan Adam, bahwa ketidaktaatan Adam membuat Adam kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Di sini manusia diperlakukan sebagai pribadi yang terhormat yang dipandang dapat dipercayai atau diberi tanggung jawab. Ketika manusia mengingkari tanggung jawabnya, manusia pun harus menuai akibatnya. Tatanan keadilan Allah menuntut hal tersebut ditegakkan.

Manusia adalah makhluk yang sangat berharga di mata Allah Bapa, tetapi bukan berarti manusia secara otomatis atau dengan sendirinya bisa hidup dalam persekutuan dengan Bapa. Manusia diberi tanggung jawab untuk memilih: apakah mau menjadi anak-anak Allah atau anak-anak Iblis. Menjadi anak-anak Allah berarti hidup dalam persekutuan dengan Dia. Sebaliknya, jika tidak demikian berarti manusia memosisikan diri sebagai pemberontak. Dalam hal ini, apakah seseorang mau menjadi agung atau tidak, itu tergantung pada dirinya sendiri. Hidup di dalam dunia yang singkat ini merupakan satu-satunya kesempatan untuk membangun keagungan pribadi sebagai anak- anak Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus datang memberi kuasa atau hak supaya orang percaya menjadi anak-anak Allah. Adapun apakah seseorang menggunakan kuasa atau hak (Yun. exousia) tersebut atau tidak, itu tergantung masing-masing individu dan hal tersebut menentukan kualitas hidupnya.

Sebenarnya, peta hidup manusia sudah jelas, bahwa di ujung perjalanan hidup di bumi ini adalah kematian, dan sesudah itu manusia diperhadapkan kepada penghakiman. Jika seseorang meninggal dunia, tidak ada satu pun benda dan kehormatan yang ia telah diperjuangkan selama hidup akan dibawa. Sebagaimana seseorang datang sendiri, ia pun akan pulang sendiri. Sebagaimana seseorang tanpa membawa apa-apa datang ke dunia ini, ia pun akan kembali tanpa membawa apa-apa juga. Ini adalah sesuatu yang pasti dan merupakan hukum kehidupan yang tidak dapat ditolak. Seharusnya, setiap orang memikirkan apa yang bisa dibawa sebagai bekal dalam kehidupan yang akan datang nanti.

Dalam Ayub 1: 21 tertulis, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya …!” Pengertian kata “kandungan ibu” di sini bisa menunjuk kepada Allah Bapa sebagai pemberi roh. Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa manusia berasal dari Allah (Kej. 2:7; Pkb. 12:7). Kata “mengaruniakan” dalam Pengkhotbah 12:7 adalah natan (ןתנ), yang lebih tepat diterjemahkan: memberikan atau menempatkan atau ditempatkan (be laid). Makhluk manusia bukan tidak jelas asal muasalnya. Manusia berasal dari Allah sendiri sehingga orang percaya yang telah dilahirkan oleh Allah boleh memanggil Dia sebagai Bapa.

Harus disadari betapa berharganya manusia sebab di dalam dirinya ada roh dari Allah. Inilah yang diperjuangkan oleh Allah Bapa, sehingga Bapa mengutus Putra Tunggal-Nya untuk menebus manusia. Dalam hal ini, manusia seakan-akan seharga dengan diri Anak Tunggal-Nya yang paling dikasihi-Nya. Bapa menghendaki agar roh yang berasal dari Dia—yang diberi daging—melakukan kehendak-Nya; bukan melakukan kehendak dan keinginannya sendiri. Jika manusia melakukan keinginannya sendiri, ia menjadikan dirinya sebagai musuh Allah, Bapanya (Yak. 4:1-5). Orang yang hidup hanya melakukan keinginan dirinya sendiri tidak akan dapat memiliki persekutuan yang benar dengan Allah sebagai Bapa.