Benar-Benar Benar
24 August 2017

Ungkapan benar-benar benar bukanlah ungkapan yang harus dikaitkan dengan keberadaan Allah sebagai satu-satunya yang memiliki keberadaan sempurna secara mutlak atau benar-benar mutlak benar. Sebab Allah tentu memiliki kebenaran yang mutlak. Dia lebih dari sekadar benar-benar benar, Dia adalah kebenaran yang absolut. Sangatlah picik kalau ungkapan ini dikaitkan dengan Allah, sebab kebenaran Allah sudah tidak lagi dipersoalkan atau dicoba untuk dibedah. Kebenaran Allah adalah kebenaran yang tidak dapat dipecahkan dengan pikiran manusia yang terbatas, sebab kebenaran Allah tidak terbatas. Orang yang mencoba mengkaitkan ungkapan ini dengan Allah dan menentang adanya usaha untuk memahami apa yang benar-benar benar dari perspektif manusia adalah orang yang tidak memiliki kerinduan untuk menjadi berkenan kepada Allah. Bisa dibuktikan, orang-orang semacam itu tidak memiliki etika kehidupan yang memberkati sesamanya.

Kalimat “benar-benar benar” adalah ungkapan untuk membandingkan antara kebenaran yang dipahami agama-agama pada umumnya, termasuk agama Yahudi, dengan kebenaran yang diajarkan Alkitab untuk dikenakan bagi umat pilihan Perjanjian Baru. Di sini kita menemukan dua jenis kebenaran, pertama kebenaran yang didasarkan pada hukum. Hal ini dikenakan bagi umat Perjanjian Lama. Dalam hal ini mereka harus belajar hukum atau peraturan-peraturan yang sama dengan syariat agama. Mereka harus mengenakannya dengan ketat dalam kehidupan ini. Pelanggaran terhadap hukum ini ada sanksinya dalam bentuk hukuman fisik, dari menyakiti sampai membunuh.

Kedua, adalah kebenaran yang didasarkan pada Tuhan. Hal ini dikenakan bagi umat Perjanjian Baru. Dalam hal ini orang percaya Perjanjian Baru harus mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Kehendak Allah tidak diwakili oleh hukum, peraturan-peraturan atau yang sama dengan syariat agama yang dikenal dalam banyak agama. Untuk mengerti kehendak Allah orang percaya harus belajar kebenaran. Dengan belajar kebenaran ini seseorang dapat memiliki kecerdasan roh. Kecerdasan roh inilah yang membuat seseorang memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah.

Bagi umat Perjanjian Lama dan agama-agama pada umumnya, di mana kebenaran mereka didasarkan pada hukum, ukuran kesucian hidup mereka sangat jelas, yaitu berdasarkan hukum dan hal ini dapat terverifikasi atau dibuktikan. Tetapi kesucian dan kebenaran bagi umat Perjanjian Baru tidak terverifikasi atau terbukti dengan mudah, sebab kesucian dan kebenarannya berdasarkan perspektif Allah. Allah yang menilai kehidupan setiap individu. Itulah sebabnya di dalam kehidupan orang percaya, mereka tidak boleh menghakimi sesamanya, artinya mudah menilai salah atau benar suatu tindakan atau keputusan seseorang, kecuali tindakan tersebut nyata-nyata melanggar norma secara umum.

Harus dipahami bahwa yang dikatakan benar-benar benar pada akhirnya adalah apa yang dikehendaki oleh Allah dalam kehidupan masing-masing individu untuk dimengerti dan dilakukan. Hal ini lebih dari hukum-hukum, peraturan dan syariat agama. Kehendak Allah kepada masing-masing orang adalah berbeda. Oleh sebab itu setiap orang harus bergumul dalam interaksi konkret dengan Allah untuk menemukan kehendak dan rencana-Nya dalam hidupnya. Dengan demikian seseorang dapat memenuhi prinsip hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus: Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Tentu saja orang yang sungguh-sungguh berniat melakukan kehendak Allah, secara norma umum harus sudah baik. Kalau secara norma umum saja sudah tidak baik, maka sudah barang tentu ia tidak akan dapat mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya harus hidup secara luar biasa dalam kelakuan; melebihi tokoh-tokoh agama sekalipun (Mat. 5:20).