Belajar Dari Sejarah
16 November 2020

Play Audio Version

Sebenarnya, banyak pandangan teologi atau doktrin yang bukan berasal dari hati Allah, dijaga oleh kuasa gelap, dan dilestarikan di dalam pikiran banyak teolog yang mengajar umat. Hal ini diupayakan oleh kuasa gelap agar orang Kristen tidak mengerti arti keselamatan yang sesungguhnya, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Kegiatan gereja tetap berlangsung, bahkan kelihatannya kokoh, tetapi sebenarnya tidak digerakkan oleh Roh Allah. Kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan diteruskan oleh rasul-rasul, khususnya Rasul Paulus, sekarang ini telah menjadi keberagamaan, yaitu mati tanpa nafas atau jiwa Injil yang murni. Peta yang jelas dari keadaan ini adalah kehidupan kekristenan di pusat gereja pada abad pertengahan, yaitu Konstantinopel.

Hal ini dapat ditandai dengan kehidupan para rohaniwan dan jemaat yang tidak semakin seperti Kristus. Walaupun secara doktrinal atau pengajaran, mereka adalah orang-orang yang cakap menyusunnya. Konsili-konsili besar terjadi di tempat ini, yang kemudian hari tidak ada bekasnya sama sekali. Bahkan kemudian menjadi pusat agama dan budaya Islam di bawah kekaisaran Ottoman. Kehidupan orang-orang Kristen di pusat kekristenan pada abad pertengahan menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk orang Kristen sepanjang zaman, sampai Tuhan Yesus datang kembali. Mereka telah mengubah kekristenan menjadi keberagamaan yang benar-benar melukai hati Allah. Itulah sebabnya, sebagaimana Allah membiarkan Yerusalem yang merupakan lambang kehadiran Allah diserahkan kepada bangsa lain—yaitu Babel dan kerajaan-kerajaan lain—demikian pula Konstantinopel jatuh ke tangan bangsa yang tidak percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Muhammad Al-Fatih alias Mehmed II berhasil menaklukkan Konstantinopel. Pada 29 Mei 1453, ibu kota kekaisaran Bynzantium atau Romawi Timur itu jatuh dalam keadaan tragis.

Menurut penulis buku sejarah yang juga pernah tinggal di Turki, Roger Crowley, kota yang dulu menjadi kebanggaan orang Kristen sedunia telah menjadi puing-puing. Sultan Muhammad Al-Fatih alias Mehmed II sebenarnya tidak menginginkan hancurnya kota yang megah dan indah, tetapi tidak bisa menahan prajuritnya menjarah dan merusak bangunan-bangunan indah dan bersejarah, serta membakarnya. Sebagaimana perang pada zaman dulu, pihak yang kalah harus menerima nasib dimana seluruh kekayaannya dijarah dan penduduknya menjadi budak; demikian pula kota Konstantinopel yang megah. Sultan memberi kesempatan tiga hari untuk menjarah, tetapi karena keadaan tersebut, Sultan membatalkan perintahnya. Ia hanya memiliki kesempatan menjarah Konstantinopel dalam waktu satu hari saja. Konstantinus XI selaku raja yang baru berusia 49 tahun, terbunuh dengan sangat mengenaskan. Orangtua berpisah dari anak-anaknya, anak-anak lenyap tidak tahu di mana rimbanya. Tidak sedikit orang Kristen yang berpindah agama karena kekecewaan melihat doa-doa para pendeta ternyata omong kosong, sebab kenyataannya kerajaan mereka ditaklukkan oleh musuh. Mereka kehilangan kepercayaan kepada Allah yang mereka yakini dapat melindungi mereka, namun ternyata mereka tidak terlindungi. Inilah awal mula sejarah berdirinya kota Istanbul yang menjadi ibu kota Turki hari ini.

Kehidupan orang-orang Kristen pada waktu itu tidak berbeda dengan anak-anak dunia pada umumnya, sehingga pada dasarnya, kegiatan gereja adalah kegiatan keberagamaan yang tidak bersuasana Kerajaan Allah. Bibir mereka mengucapkan kalimat: “Datanglah Kerajaan-Mu,” tetapi sejatinya mereka membangun dan menghadirkan kerajaan manusia dalam keberagamaan yang namanya agama Kristen. Mereka memiliki agama Kristen tanpa Yesus yang memerintah kehidupan masing-masing individu dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terjadi karena mereka tidak ada dalam suasana Kerajaan Allah, tetapi dalam suasana pengaruh kuasa gelap. Pengaruh kuasa gelap tidak membuat orang Kristen menjadi biadab dan tidak beragama, tetapi cukup membuat mereka tidak menjalani hidup kekristenan dalam proses perubahan untuk serupa dengan Yesus atau mengenakan kodrat ilahi.

Keadaan tersebut tidak boleh dianggap sepele. Sejatinya, di sinilah letak kecerdikan Iblis dalam membelokkan kebenaran dan merusak rencana keselamatan Allah atas manusia. Keberagaman Kristen dengan segala doktrin yang terbangun bisa menjadi sarang kuasa gelap yang membelenggu orang-orang Kristen untuk tidak bergerak dalam perubahan sesuai dengan maksud keselamatan itu diberikan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Tetapi hal tersebut sudah menjadi standar umum, sehingga kebiasaan tersebut diterima sebagai standar yang ideal. Tahun demi tahun berkeadaan demikian, sampai pada titik dimana keadaan gereja tersebut dan orang-orang Kristen di dalamnya tidak bisa diperbaiki lagi. Hal ini telah terjadi di abad pertengahan sekitar tahun 5 sampai 15, hingga jatuhnya pusat gereja dan kebudayaan Kristen, yaitu Konstantinopel, ke tangan orang yang tidak percaya Yesus.