Belajar Beriman dengan Benar
16 January 2021

Play Audio

Orang yang sungguh-sungguh belajar beriman dengan benar pasti dapat menyadari bahwa ternyata memiliki iman yang benar itu tidak mudah. Sulit. Dikatakan bahwa “iman tanpa perbuatan, seperti tubuh tanpa roh.” Perbuatan apakah yang menunjukkan imannya, atau perbuatan apakah yang berkualitas sebagai ekspresi atau perwujudan iman? Kalau hanya berbuat baik, itu bukan atau belumlah iman standar seperti yang Allah kehendaki. Memang dalam Yakobus 2 dikatakan: “Kamu mengatakan beriman, tetapi kamu lihat saudaramu yang tidak pakai pakaian, kamu tidak memberi pakaian. Kamu lihat saudaramu yang kedinginan, kau biarkan. Kau melihat saudaramu yang lapar, kau diamkan.” Itu bukan iman. Itu iman yang mati. Tetapi bukan berarti kalau ada orang tidak pakai baju, kita berikan baju, berarti kita beriman. Bukan berarti kalau kita melihat orang tidak memiliki makanan, kita beri makanan, berarti kita sudah beriman. Itu hanya contoh.

Jadi, ketika seseorang melihat orang lain di dalam kekurangan, kalau tidak memberi apa-apa juga tidak bisa dikatakan melanggar hukum pada zaman itu. Sebab, tidak melanggar Sepuluh Perintah Allah. Tidak ada keharusan. Orang yang tidak memberi makan orang yang lapar, bukan suatu dosa. Itu kerelaan. Sama seperti kisah mengenai orang Samaria yang baik hati. Ketika ada orang yang dirampok habis-habisan, lalu lewat seorang rohaniwan—tokoh agama Yahudi—ia melihat orang yang dirampok dan sekarat itu, dia menyimpang. Dia mengambil jalan lain. Dia sengaja membiarkan. Berdosakah dia? Tidak salah, karena tidak ada keharusan. Orang tidak memberi makan orang lapar, itu bukan dosa, karena dipandang dari Hukum Taurat, hal tersebut tidak melanggar hukum. Tetapi, dosa di mata Allah.

Bagi umat Perjanjian Baru, iman itu berarti melakukan apa pun yang Allah perintahkan untuk dilakukan, atau memenuhi proyek yang Tuhan berikan. Seperti di Lukas 16, ada orang kaya yang setiap hari berpesta pora. “Setiap hari,” kata Alkitab. Ia memakai jubah ungu, tanda bahwa ia adalah seorang yang kaya. Sementara, ada Lazarus yang tergeletak kelaparan di depan pintu rumahnya. Dia tidak harus memberi roti. Dia kenal Taurat, sebab ketika dia sudah mati, Abram berkata “di bumi ada Taurat,” dan ada hukum, jadi dia tahu Taurat. Tetapi, tidak memberi makan orang lapar, bukan berarti melanggar Taurat. Itu proyek. Dia tidak melakukan proyek itu. Itu berarti tidak beriman.

Jadi, kalau kita diberi proyek—misalnya orang yang tidak punya pakaian, kedinginan—dan kita tidak memberinya pakaian, itu berarti kita tidak beriman. Tetapi bukan hanya satu kali kasus itu, masih banyak kasus lain yang Tuhan akan berikan. Ketika kita lihat orang lapar, kita tidak memberinya makanan—memang secara hukum tidak berdosa, tetapi berarti kita tidak beriman. Memang bukan berarti kalau ada orang lapar dan kita memberinya makanan, berarti kita sudah beriman. Belum tentu. Karena itu baru satu proyek. Beriman itu artinya sampai akhir kita melakukan apa pun yang Tuhan percayakan kepada kita. Satu Lazarus Tuhan kirim, kita selesaikan, kita bantu, kita tolong. Tuhan kirim lagi Lazarus yang lain. Tuhan beri kita satu proyek, kita kerjakan dengan baik, Tuhan beri proyek yang lain.

Dulu ada seorang pendeta yang berpikir, “kalau satu orang saya tolong, lalu muncul lagi orang yang lain, capek nanti hidup saya.” Tapi kemudian Tuhan tegur dia, bahwa Tuhan tidak akan memberikan kepadanya proyek yang dia tidak bisa kerjakan. Jadi, kalau Tuhan memberi kita proyek, berarti Tuhan pun memberi kita kemampuan untuk menyelesaikan proyek tersebut. Jika kita meresponsnya dengan benar, Tuhan pasti akan memberikan kita proyek-proyek yang lebih besar, dan Tuhan pasti melengkapi kebutuhan kita guna menyelesaikan proyek-proyek tersebut. Kita harus mengerti hal ini, bahwa Tuhan akan membawa kita kepada keadaan-keadaan tertentu yang melalui keadaan-keadaan itu kita dilatih beriman. Bukan hanya menghadapi Lazarus-Lazarus yang harus kita tolong, melainkan juga menghadapi orang-orang yang berbuat jahat, seperti orang-orang yang mendzolimi, memfitnah, mengkhianati, mendatangkan kerugian kepada kita. Tetapi kita bisa melewatinya, bisa melakukan sesuai dengan kehendak Allah.

Bertemu dengan orang yang menjahati kita, kita tidak mau membalas kejahatan. Ada kalanya Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang menyakitkan, kita pun bisa melewatinya. Menyakitkan, kita juga bisa melewatinya, kita mengampuni. Sangat menyakitkan, kita juga bisa melewati. Sangat-sangat menyakitkan, kita juga bisa. Iman kita bertumbuh di situ! Kita diberi Lazarus yang membuat 5% milik kita harus kita lepaskan, muncul Lazarus baru yang membuat 10% dari yang kita miliki kita lepaskan, sampai kita ketemu Lazarus yang membuat 100% hidup kita habis. Tetapi hal itulah yang menumbuhkan iman kita. Maka dikatakan “iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh,” artinya bahwa harus ada perbuatan-perbuatan yang kita lakukan yang membuat iman kita sempurna. Dan perbuatan-perbuatan itu kita lakukan berdasarkan kejadian-kejadian yang Tuhan izinkan kita alami, atau proyek-proyek yang Tuhan izinkan kita selesaikan dalam hidup ini. Luar biasa, bukan?

Inilah untungnya menjadi umat pilihan Allah yang dididik untuk memiliki iman yang sempurna. Ternyata Abraham juga mengalami hal itu. Tuhan izinkan dia keluar dari Ur-Kasdim, dia sudah lulus. Sekian puluh tahun dia tidak punya anak, seperempat abad kira-kira, dia tetap percaya. Dia dibawa ke Mesir, istrinya mau diambil. Lalu dia menghadapi masalah Hagar, dan seterusnya sampai dia diperintahkan menyembelih anaknya sendiri sebagai kurban bakaran. Tapi dia lulus. Karenanya, ia disebut bapak orang percaya. Setiap kita memiliki pengalaman yang berbeda-beda, tetapi pada intinya, dalam pengalaman yang berbeda-beda itu kita harus sungguh-sungguh bisa menyelesaikannya, bisa melakukan kehendak Allah. Jadi kita sekarang mengerti apa maksudnya perbuatan itu.

“Iman tanpa perbuatan, seperti tubuh tanpa roh… oleh perbuatannya, imannya menjadi sempurna,” artinya bahwa iman itu harus diekspresikan, dinyatakan dalam perbuatan, dan perbuatan yang kita alami adalah ujian-ujian yang semakin hari semakin berat. Di sinilah sekolah kehidupan yang kita jalani. Dan orang percaya akan memiliki semacam kurikulum yang harus dijalani. Kurikulum yang Allah sendiri sediakan, dan masing-masing orang memiliki pengalaman yang pasti berbeda. Tentu sesuai dengan porsi yang Allah tetapkan, Allah sediakan pada masing-masing kita. Bersyukur kalau kita menghadapi banyak hal yang menurut kita menyakitkan dan merugikan, karena sebenarnya di balik itu ada pelajaran-pelajaran berharga yang Tuhan berikan. Jangan mengeluh dan berkata: “Orang lain tidak mengalami begini, kenapa aku harus mengalami separah ini atau seberat ini?Justru kalau kita mengalami persoalan makin berat, berarti sekolahnya makin tinggi, hasilnya makin bagus, kekayaan kekalnya makin banyak.