Beban terhadap Orang lain
26 December 2020

Play Audio Version

Kita harus menghayati betapa tragisnya hidup ini. Pada umumnya, kita juga sudah tahu bahwa hidup ini tragis, tetapi hanya sedikit orang yang benar-benar menghayati tragisnya hidup ini, sehingga mereka tidak mempersiapkan diri untuk menetap di langit baru dan bumi baru. Mereka tidak menyeberangkan hatinya ke langit baru dan bumi baru sejak di bumi ini. Sehingga, mereka tidak pernah memiliki basis berpikir dunia yang akan datang. Sampai kapan pun, orang-orang seperti ini tidak pernah menjadi rohani. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan pernah menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Biasanya, orang-orang seperti ini memang bisa mengambil bagian dalam pelayanan. Seandainya ia melayani, hal itu dikarenakan keuntungan yang bisa ia peroleh.

Beban yang tulus terhadap orang lain membuat kita membuka tangan untuk berbagi apa yang kita miliki demi kepentingan kehidupan jasmani. Namun, selanjutnya kita juga memperjuangkan kepentingan yang lebih besar dan merupakan inti masalah kehidupan, yaitu kekekalan di langit baru bumi baru. Menjadi manusia pemberi bukan manusia penerima, tidaklah mudah. Karena irama hidup manusia pada umumnya adalah menerima. Pada umumnya, manusia adalah manusia yang berkarakter penerima, bukan pemberi. Keadaan ini bukan hanya ada dalam kehidupan orang-orang di luar gereja, melainkan juga orang-orang Kristen di dalam gereja, bahkan para pelayan-pelayannya, aktivis gereja, maupun pendeta. Kalaupun seseorang bisa memberikan sesuatu bagi pelayanan, dasarnya bukan karena sudah menjadi “manusia pemberi” melainkan karena kesantunan hidup dan perasaan keterbebanan yang terbatas. Ini berarti belum memiliki hati seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus.

Demi pengabdian kepada Tuhan, kita berusaha menjadi manusia pemberi. Oleh karena itu, kita harus menjadi orang-orang yang benar-benar berpotensi. Untuk memiliki kehidupan yang berpotensi, kita harus bekerja keras mengembangkan semua bakat dan kemampuan yang kita miliki. Pengharapan terhadap langit baru dan bumi baru tidak membuat kita menjadi manusia yang antisosial, tidak membuat kita menjadi orang yang tidak bertanggung jawab dalam kehidupan di dalam keluarga, gereja, masyarakat, bangsa, dan negara. Orang yang berbicara mengenai surga lalu menjadi antisosial dan tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan anak bangsa, pasti telah sesat di dalam pengertiannya. Orang yang berpikir bahwa mereka yang menaruh harapannya pada dunia akan datang menjadi orang yang antisosial yang tidak memenuhi tanggung jawabnya dalam hidup adalah orang-orang yang tidak mengerti kebenaran.

Harus dipahami bahwa pengabdian kita kepada Tuhan terletak pada saat kita memaksimalkan potensi dan bertanggung jawab dalam kehidupan ini, terkait dengan hubungan kita dengan keluarga, gereja, masyarakat, bangsa, dan negara. Seseorang tidak bisa dikatakan mengasihi Allah ia kalau tidak memaksimalkan potensi bagi sesamanya di bumi ini. Sesungguhnya, inilah ibadah yang sejati itu, seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 12:1, juga yang dimaksud Yesus dalam Lukas 4:8 sebagai kebaktian kepada Allah. Justru orang yang menaruh pengharapannya di langit baru dan bumi yang baru, dimana ia berusaha untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela agar berkenan di hadapan Tuhan, pasti mengisi hari hidupnya untuk menjadi saksi Tuhan dengan memikul beban sesama dalam tindakan konkret, bukan hanya dalam warna dan pernyataan-pernyataan kata dan kalimat. Orang yang benar-benar berkarya bagi Tuhan dengan memikul beban sesama tidak akan banyak bicara. Suatu hari, semua orang akan diperhadapkan kepada pengadilan, dan segala sesuatu yang kita lakukan akan dibawa ke pengadilan.

Justru inilah ciri dari orang-orang yang benar-benar telah menyeberangkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga atau berbasis pikir dunia yang akan datang. Mereka akan sungguh-sungguh berusaha hidup tidak bercacat dan tidak bercela, memaksimalkan semua potensi untuk kepentingan Kerajaan Allah, menjadi manusia pemberi, dan pasti efektif dalam pekerjaan Tuhan, serta hidupnya pasti mengubah orang lain. Hatinya sangat sensitif terhadap penderitaan dan kebutuhan orang lain. Orang-orang seperti ini akan dipercayai Tuhan menerima banyak Lazarus. Semakin banyak lazarus yang disambut dan dilayaninya, hidupnya semakin menyenangkan hati Allah. Ini berarti semakin memikat hati Allah, menjadi penghiburan bagi hati Allah yang berduka di tengah-tengah dunia yang semakin fasik. Dengan demikian pula, semakin banyak harta kekayaannya di dalam Kerajaan Surga. Inilah bagian dari mengumpulkan harta di surga, sebab selain karakter kita yang harus menjadi semakin seperti Yesus, juga ada salib yang harus kita pikul. Salib adalah penderitaan yang kita alami demi berkat bagi sesama. Orang yang memedulikan sesama dapat menemukan hadirat Allah dan hidup di dalamnya.