Aspek Kesucian
08 January 2021

Play Audio

Ada banyak tindakan Allah dalam Perjanjian Lama yang kita tidak mengerti. Tentu ada banyak yang kita mengerti, tetapi ada juga yang tidak kita mengerti. Untuk ini, kita tidak memaksa diri untuk mengerti, sehingga kita membuat tafsiran-tafsiran yang sembarangan. Masuk zaman Perjanjian Baru, Allah memeteraikan kita dengan Roh Kudus, dimana Roh Kudus menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Itu berarti ada banyak hal yang kita akan ketahui, karena Roh Kudus yang memimpin kita kepada seluruh kebenaran. Allah akan memberikan kepada kita kecerdasan untuk mengerti tindakan-tindakan-Nya. Tentu selama orang itu mau belajar dengan sungguh-sungguh dan memiliki hati yang haus dan lapar akan kebenaran. Allah menghendaki kita memiliki kecerdasan tersebut karena aspek kesucian itu adalah kecerdasan rohani, dimana seseorang bisa memiliki “frekuensi” seperti Allah atau yang ‘nyambung’ dengan frekuensi Allah. Dalam segala sesuatu yang kita lakukan, bisa cocok dengan apa yang menjadi keinginan Allah, cocok dengan kehendak Allah, atau cocok dengan selera Allah. Dan ini tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Ini harus digumuli dalam perjalanan hidup yang panjang dan intensif, artinya setiap waktu.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepada-Nya Anak itu berkenan menyatakannya.” Ini bukan sekadar pengetahuan tentang Allah atau yang sama dengan teologi, tetapi “mengenal” di sini mengenal kehendak-Nya; mengenal karakter-Nya, mengenal selera-Nya. Itulah sebabnya Yesus berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa.” “Sempurna seperti Bapa” itu bukan berarti kita mau menyamai Allah, melainkan dalam segala tindakan yang kita lakukan bisa selalu sesuai dengan keinginan, kehendak, dan selera Allah. Dan setiap kita tentunya memiliki pergumulan masing-masing yang berbeda. Tetapi, apa pun pergumulan yang dialami masing-masing individu, dia harus menjalani pergumulan hidup itu sesuai dengan keinginan, kehendak, dan selera Allah. Ini namanya “sempurna seperti Bapa.”

Jadi kalau Tuhan Yesus berkata, “tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak,” itu bukan hanya pengetahuan teologi mengenai Allah, tetapi apa yang Bapa ingini, kehendaki, dan selera-Nya yang Anak itu tahu. Maka di ayat berikutnya Yesus berkata, “mari datang kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat. Aku beri kamu kelegaan.” Kata “kelegaan” itu artinya perhentian; (Yun.) Anapauso. Mengapa seseorang mengalami letih lesu? Selama seseorang interest-nya masih bukan pada Tuhan saja, ia pasti letih lesu dan berbeban berat. Jadi, kita jangan mengundang orang menjadi Kristen hanya karena supaya dia dapat jodoh, ekonominya baik, supaya dia sembuh dari sakit, dan memperoleh kebutuhan jasmani. Itu menyesatkan. Memang Tuhan dapat membuat mukjizat untuk orang-orang yang memerlukan tanda supaya tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Tuhan. Tetapi sebenarnya tujuan dari kekristenan adalah agar orang mengenal Bapa, Allah Bapa yang menciptakan segala sesuatu, yang dikatakan dalam firman Tuhan bahwa segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia. Yesus sebagai manusia sejati, telah belajar mengenal Bapa-Nya dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan Bapa.

Kita belajar dari Tuhan Yesus. Maka ketika Tuhan Yesus berkata, “Aku menyertai kamu sampai kesudahan zaman,” itu maksudnya bukan hanya menyertai kita supaya kita dapat memperoleh jalan keluar dari segala persoalan hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi maksud pernyataan Yesus itu adalah agar kita bisa mengenal Allah Bapa-Nya, dan melakukan kehendak Allah Bapa-Nya. Dan itulah perhentian. Jadi, perhentian kita bukan karena kita sudah membayar utang, sudah dapat jodoh, sembuh dari sakit. Bukan. Itu hanya tanda. orang-orang Kristen yang sudah mengerti Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, mestinya tidak butuh tanda lagi. Kalau kita sakit, kita harus mengubah pola makan dan pola hidup. Kalau orang Kristen sudah mengerti tanda itu, mestinya sudah tidak mencari tanda lagi. Tetapi, ia harus mengerti bagaimana berjuang untuk mengenal Allah. “Mengenal Allah” di sini bukan hanya belajar teologi, bukan hanya belajar mengenai siapa Allah, melainkan mengenal apa yang Dia ingini, kehendaki, dan selera-Nya, terkait dengan hidup kita.

Penyesatan yang sudah berlangsung lama—walaupun ini tidak bisa dikatakan penyesatan yang major—tetap merupakan penyimpangan. Orang digiring menjadi Kristen oleh karena pemenuhan kebutuhan jasmani, dan ini membuat banyak orang Kristen menjadi bodoh. Orientasi berpikirnya hanya mukjizat, kuasa Allah yang dialami dan seakan-akan kalau mengalaminya dia menjadi orang yang dikasihi Tuhan, diistimewakan Tuhan. Orang Kristen seperti itu adalah Kristen kanak-kanak, sebagaimana anak kecil juga begitu terhadap orangtuanya. Sebagai orang Kristen yang dewasa, kita harus sudah berhenti dari orientasi tersebut. Orientasi kita sudah pada pendewasaan rohani; yaitu mengenal apa yang Bapa ingini, apa yang Bapa kehendaki untuk dilakukan. Ketika anak-anak masih kecil, maunya adalah orangtua memberi kesenangan, kepuasan bagi dirinya. Kadang-kadang orangtua merasa seperti berutang sesuatu kepada anak. Padahal, mestinya tidak demikian. Kalau seorang anak sudah menjadi dewasa, dia tidak menuntut lagi. Justru sebaliknya, dia memberi diri dituntut oleh orangtuanya; memberi diri untuk memenuhi kebutuhan orangtua, memberi diri untuk melindungi orangtua.

Demikian pula kita sebagai anak-anak Allah. Ketika kita mulai akil baligh dan dewasa, maka yang kita persoalkan adalah bagaimana kita bisa berbuat sesuatu bagi Tuhan. Dan itu adalah aspek kesucian. Kesucian bukan hanya tidak berbuat dosa atau tidak melanggar hukum. Kesucian berarti mengerti kehendak, keinginan, dan selera-Nya, dan hidup di dalam kehendak, keinginan, dan selera Allah. Untuk itu, memang dibutuhkan perjuangan hebat.