Aspek-Aspek Dalam Pembenaran
04 September 2019

Penebusan oleh darah Tuhan Yesus di kayu salib merupakan jalan pembenaran manusia. Kematian Tuhan Yesus membatalkan semua tuntutan hukum atas manusia yang telah bersalah. Dengan pengorbanan-Nya, Iblis tidak lagi bisa mendakwa manusia sebab Tuhan Yesus telah menggantikan tempat manusia sebagai pihak yang bersalah (2Kor. 5:1; Gal. 3:13; Gal. 5:16-18). Manusia yang berdosa dinyatakan tidak bersalah karena Tuhan Yesus telah menggantikan tempat manusia di kayu salib. Dengan demikian, kita yang mengerti pembenaran ini -sebagai orang yang dinyatakan tidak bersalah- dengan keberanian menghampiri Allah. Jika tidak ada penebusan, maka manusia tidak dapat menghampiri Allah. Ini adalah tatanan Allah.

 

Berbicara mengenai pembenaran, maka hal ini langsung menunjuk bahwa manusia adalah oknum yang telah bersalah yang telah membangkitkan murka Allah. Tetapi oleh anugerah-Nya manusia menerima tindakan yudisial Allah sebagai orang yang dideklarasi tidak bersalah. Pembenaran ini berangkat dari anugerah semata-mata yang diberikan oleh Tuhan (Tit. 3:7; Rm. 3:24-28; 5:1; Gal. 2:16). Dengan pembenaran oleh korban Tuhan Yesus ini, maka tidak ada manusia yang bisa membanggakan kesalehannya, sebab kesalehan manusia bukanlah sesuatu yang bernilai tanpa korban Tuhan Yesus di kayu salib. Kalau tidak ada pembenaran, maka perbuatan baik bagaimanapun tidak berarti sama sekali (Yes. 64:6).

 

Pembenaran memiliki tiga dimensi, seperti keselamatan juga dapat ditinjau dari tiga dimensi. Dimensi masa lalu (past), artinya bahwa korban yang dikerjakan oleh Tuhan di kayu salib dua ribu tahun yang lalu merupakan tindakan sekali untuk selamanya bagi pembenaran manusia yang berdosa. Dalam hal ini, karya salib Yesus cukup sekali di bukit Golgota dan tidak perlu diulang-ulang. Sekali untuk selamanya. Hal ini seimbang dengan kesalahan yang dilakukan oleh Adam. Oleh karena seorang Adam, maka semua manusia hidup di bawah bayang-bayang maut, demikian pula oleh tindakan satu orang maka semua orang percaya dapat memperoleh pembenaran.

 

Pembenaran aspek sekarang (present), bagi mereka yang menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan benar, yang sama artinya memiliki iman yang benar, maka ia menerima pembenaran. Kita harus memahami bahwa iman datang dari pendengaran oleh Firman Kristus. Seseorang yang memiliki iman yang benar pasti dibenarkan. Pembenaran ini berjalan seiring dengan proses keselamatan. Keselamatan adalah proses, tetapi pembenaran bukanlah proses tetapi memiliki dua aspek, yaitu: pertama, tindakan sekali oleh karya salib dua ribu tahun yang lalu, aspek kedua adalah pengakuan Allah atas orang percaya yang mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Aspek kedua ini merupakan peneguhan dari proses keselamatan yang sungguh-sungguh berlangsung dengan benar dan berhasil. Orang yang tidak mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar, tidak akan menerima pembenaran ini (Luk. 18:1-8). Hal ini dijelaskan di dalam pembenaran ditinjau dari aspek yang akan datang (future).

 

Pembenaran juga dapat ditinjau dari dimensi yang akan datang (future). Bahwa suatu kali akan dinyatakan secara deklaratif dan umum bahwa orang-orang percaya yang setia hidup dalam kebenaran-Nya atau mengikut Tuhan Yesus dengan benar adalah orang-orang yang dibenarkan. Hal ini berangkat dari apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 18:1-8. Janda adalah gambaran orang percaya yang teguh dengan integritasnya, tidak mengikuti hidup jalan dunia (Luk. 17:26-37). Sangatlah keliru kalau orang Kristen berpikir bahwa mereka sudah percaya kepada Yesus, dan merasa sudah menerima pembenaran sehingga tidak perlu lagi melakukan perjuangan apa pun untuk mengisi percayanya. Orang-orang seperti ini tidak mengalami pertumbuhan rohani, sehingga mereka tetap serupa dengan dunia ini. Mereka tidak pernah menjadi anak-anak Allah yang sah (Yun. huios), sebab mereka tidak memiliki keberadaan sebagai anak-anak Allah.

 

Adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab kalau diajarkan doktrin bahwa pembenaran adalah tindakan seketika dan sepihak dari Allah kepada manusia yang mengaku percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus sebagai manusia yang dianggap benar (Rm. 3:28; 5:1; Gal. 3:24). Dalam hal ini terjadi ketidakjelasan. Sebab harus dijabarkan apa yang dimaksud percaya itu atau beriman itu. Apakah tindakan pembenaran adalah tindakan sepihak Allah tanpa melibatkan respon manusia? Untuk ini harus dijelaskan apakah iman itu. Dalam hal ini, kuncinya pada pengertian iman. Kalau pengertian mengenai iman salah, maka pemahaman mengenai pembenaran juga salah. Sebaliknya kalau pengertian mengenai iman benar, maka pemahaman mengenai pembenaran juga benar.