Arah Tujuan Hidup Yang Benar
01 August 2020

Play Audio Version

Apabila seseorang bertanya kepada kita, “Apakah Anda percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya kebenaran?” Apa jawaban kita? Hampir dapat dipastikan kita akan menjawab, “Ya, amin, saya percaya.” Kalau ada pertanyaan selanjutnya, “Apakah Anda juga percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat?” Tanpa ragu kita pasti juga menjawab, “Ya, saya percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat.” Namun persoalannya adalah bagaimana kita membuktikan percaya kita itu? Apakah kita hanya memercayai kebenaran itu di dalam pikiran, ataukah kita mengisi percaya kita dalam tindakan konkret setiap hari? Tentunya percaya bukan hanya keyakinan di dalam pikiran, percaya adalah tindakan konkret dan berkesinambungan di dalam kehidupan kita setiap saat. Percaya bukan hanya ada di dalam pikiran, tetapi di dalam kehidupan setiap saat.

Kalau seseorang benar-benar memercayai bahwa Alkitab adalah kebenaran Allah—satu-satunya kebenaran—dan percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, pasti ia memiliki arah tujuan hidup yang benar. Segala sesuatu yang dilakukannya pasti untuk kemuliaan Allah. “Untuk kemuliaan Allah,” artinya segala sesuatu yang dilakukan menyukakan hati Bapa di surga. Dengan demikian, tidak ada sesuatu yang kita lakukan yang melanggar etika kehidupan yang digariskan oleh Alkitab atau tidak akan bertentangan dengan kesucian Allah. Tidak ada perbuatan kita yang melukai atau merugikan orang lain. Pasti tidak ada kebencian, tidak ada dendam, atau sakit hati kepada seseorang. Tidak ada usaha sedikit pun yang membuat orang lain terlukai.

Kalau seseorang memiliki percaya yang benar, bangun pagi, makan pagi, pergi ke kantor atau ke tempat kerja atau berbisnis pasti dengan hati yang tertuju kepada Tuhan, artinya melakukan segala sesuatu untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Pekerjaan Tuhan yang pertama adalah merawat orangtua; bertanggung jawab atas orangtua yang telah membesarkan dirinya. Terkait dengan hal ini ia pasti memilih jodoh atau teman hidup yang juga mencintai orangtuanya. Ia mengurus rumah tangga dengan baik dan tidak menjadi beban untuk orang lain. Selanjutnya, memerhatikan keluarga besar dimana ia berada. Pasti ada saja keluarga besar atau famili yang perlu ditopang. Orang seperti ini pasti menjadi berkat bagi masyarakat dan orang di sekitarnya. Kalau di kantor, bertemu dengan petugas keamanan, cleaning service, dan orang-orang di lain sekitarnya, ia menjadi keteduhan dan berkat bagi mereka.

Mungkin kita tidak memberi uang atau sesuatu secara materi kpada orang lain karena keterbatasan kita, tetapi senyum, salam, sapa kita yang tulus sudah menjadi gift atau pemberian, sudah dapat menjadi hadiah bagi mereka. Dan Allah memang mau menjadikan kita ini hadiah untuk orang lain. Pergi ke tempat kerja dengan gairah karena dimana kita bekerja kita akan menebar berkat. Kita menjadi keharuman bagi Allah, menjadi simfoni yang merdu bagi Tuhan dan bagi orang lain.

Pulang dari kerja, kita bergairah bertemu dengan keluarga yang bisa diajak bercengkerama, sharing Firman, berdoa bersama, menonton TV bersama (tentu tontonan yang patut dilihat), saat teduh, family altar, dan merenungkan Firman Tuhan bersama-sama. Ada saat-saat tertentu, jalan-jalan ke mal, makan bersama di luar, dan bisa ber-fellowship setiap hari. Tentu saja kita menjadi pasangan hidup yang setia, orangtua yang bertanggung jawab, dan sekaligus menjadi teladan atau menjadi pola dengan mana anak-anak membentuk dan membangun dirinya. Dan itu adalah satu keindahan. Dengan demikian suasa Firdaus terbangun.

Suasana Firdaus di dalam rumah juga dinikmati bukan saja oleh ayah, ibu, anak, atau famili yang tinggal di rumah, melainkan juga bisa dinikmati oleh pembantu rumah tangga, sopir dan pegawai yang bekerja di rumah. Mereka bisa menikmati suasana yang indah dan baru. Dan dengan cara seperti itulah, sebenarnya kita menjadi saksi dan membuktikan bahwa Firdaus ada di dalam keluarga kita. Membangun kehidupan seperti ini memang bukan hal yang mudah, tetapi kalau orang benar-benar percaya Alkitab adalah kebenaran dan menyerap kebenaran Alkitab dengan benar, mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, pengakuan iman dan keyakinan yang benar tersebut akan mewarnai hidup kita. Dari kebenaran ini kita memperoleh cermin dari kehidupan yang patut kita kenakan, baik bagi kita pribadi, maupun bersama dengan keluarga kita.