Anugerah Dan Tanggung Jawab
10 July 2019

Satu hal penting yang harus dipahami setiap orang percaya, yaitu oleh karena keselamatan diperoleh melalui anugerah bukan karena perbuatan baik, bukan berarti bahwa hukum tidak memiliki arti dan fungsi lagi. Hukum yang menjadi landasan untuk mengadili perbuatan manusia membuktikan apakah seseorang memiliki iman atau tidak. Iman bukanlah sesuatu yang abstrak, iman haruslah dibuktikan dengan perbuatan. Dalam hal ini perbuatan menurut hukum yang Allah berikan, yaitu Sepuluh Perintah Allah atau Dekalog. Dekalog memancarkan kesucian Allah, ukuran keberkenanan-Nya. Pernyataan ini hendaknya tidak mengurangi kewibawaan prinsip “only by grace” (hanya oleh anugerah). Berkenaan dengan hal tersebut harus diperhatikan dua catatan ini:

Pertama, kematian Tuhan Yesus di kayu salib membuka peluang bagi manusia masih bisa memiliki pengharapan hidup di dunia yang akan datang. Mereka yang berbuat baik akan diperkenankan masuk dunia yang akan datang, melalui proses penghakiman atau pengadilan. Kalau Tuhan Yesus tidak mati di kayu salib maka tidak akan ada pengadilan, dan tanpa pengadilan manusia akan meluncur ke neraka. Terpisah dari Allah selama-lamanya. Tidak ada pengadilan sama sekali. Tetapi dengan kenyataan bahwa semua dosa dunia ditanggung oleh Tuhan Yesus, maka bisa terjadi atau diadakannya pengadilan. Mereka yang diadili dan diperkenankan masuk dunia yang akan datang adalah orang-orang yang menjadi anggota masyarakat. Ini berbeda dengan orang percaya yang masuk anggota keluarga Allah untuk memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

Kedua, kematian Tuhan Yesus di kayu salib menyediakan keselamatan, artinya dimungkinkannya manusia dapat kembali menjadi segambar dan serupa dengan Allah. Mereka yang yang percaya kepada karya salib Kristus dan mengikut jejak Tuhan Yesus, juga akan dihakimi menurut perbuatan (2Kor. 5:9-10). Perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan yang standarnya adalah berkenan di hadapan Bapa atau sempurna seperti Bapa. Jika benar, maka ia diperkenan masuk dalam keluarga Allah untuk dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Mereka bukan seperti kelompok pertama yang penghakimannya hanya menggunakan ukuran hukum semata.

Dalam hal ini di pengadilan nanti ada dua kelompok besar manusia. Pertama, kelompok manusia yang dihakimi perbuatannya menurut hukum yang tertulis. Mereka yang namanya terdapat dalam kitab kehidupan (Why. 20:15). Mereka akan diperkenan masuk dunia yang akan datang, tetapi bukan untuk menjadi anggota keluarga Allah. Kalau boleh diistilahkan, ini adalah paket umum atau universal. Kedua, adalah kelompok orang yang dihakimi menurut perbuatan berdasarkan kesempurnaan Kristus atau seperti Bapa. Mereka dituntut memiliki karakter seperti Tuhan Yesus. Nama-nama orang ini akan tercatat dalam Kitab Kehidupan Anak Domba (Why. 21:27). Mereka inilah yang dimaksud oleh Roma 8:17, akan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

Hukum disediakan oleh Allah sendiri, dimana Ia mengukir dengan tangan-Nya dengan tujuan:
Pertama, agar manusia tidak saling membunuh dan membinasakan, sebab manusia yang berwatak dosa jika tidak dibelenggu atau dibatasi oleh hukum akan saling membunuh dan membinasakan seperti binatang. Kalau manusia punah sebelum Tuhan Yesus datang ke dunia, maka akan menjadi masalah besar sebab keselamatan belum dipenuhi oleh Allah. Dalam hal ini hukum diberikan Tuhan untuk melestarikan kehidupan.

Kedua, agar manusia masih bisa masuk di langit baru dan bumi yang baru. Jadi, sebelum dunia berakhir, hukum dibutuhkan dan Tuhan tetap menjaganya (Mat. 5:17-19). Manusia berdosa selama di dunia masih bisa dilatih untuk beradab, guna masuk dunia yang akan datang. Kalau tidak ada hukum, maka semua manusia menjadi seperti hewan, sehingga tidak seorang pun dilayakkan masuk dunia yang akan datang. Mereka yang tidak mendengar Injil atau mendengar Injil secara keliru -sehingga tidak penah menjadi orang percaya yang benar- akan dihakimi menurut perbuatan. Penghakiman tersebut membuka peluang untuk manusia bisa hidup di dunia lain.

Berkenaan dengan hal ini, jangan karena prinsip “hanya oleh anugerah,” hukum dianggap tidak dibutuhkan lagi atau dibuang sama sekali. Orang yang terlalu ekstrem atau tidak memandang secara proporsional pengertian “only by grace,” mengisyaratkan atau merasa bahwa kalau hukum dihargai itu berarti melecehkan anugerah Tuhan. Seakan-akan berusaha melakukan hukum dianggap sebagai sikap penolakan terhadap keselamatan hanya oleh anugerah, seakan-akan juga sedang berusaha untuk meraih keselamatan dengan perbuatan baik. Padahal bukan demikian maksudnya. Perbuatan baik pun tidak akan pernah menyelamatkan jika Tuhan Yesus Kristus tidak mati di kayu salib memikul dosa dunia, tetapi kalau seseorang tidak berusaha berbuat baik dan sempurna seperti Bapa berarti tidak menghargai anugerah keselamatan yang Tuhan berikan. Dalam hal ini berbuat baik dengan melakukan hukum plus sempurna seperti Bapa adalah respon dan tanggung jawab terhadap anugerah yang Tuhan berikan. Menolak berbuat baik dan sempurna seperti Bapa berarti menolak keselamatan yang Tuhan berikan.