Anggota Keluarga Kerajaan
29 September 2018

Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa, maksudnya dalam konteks harus melakukan kebaikan bagi semua orang, baik kepada orang baik maupun orang jahat, orang benar maupun orang yang tidak benar. Sempurna seperti Bapa artinya berkodrat seperti Bapa, yaitu berkodrat Ilahi. Sebagai anak-anak Allah (Theos) yang juga adalah Bapa, kita harus juga bersikap sama seperti Bapa terhadap semua orang. Dengan demikian, orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa. Luar biasa bukan dalam penampilan lahiriah, harta, gelar, pangkat, kedudukan dan lain sebagainya; tetapi orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Ahli Taurat dan orang Farisi adalah tokoh-tokoh agama yang dipandang sebagai orang saleh yang melebihi masyarakat. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya harus lebih benar dari mereka. Ini berarti orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Tingkat keluarbiasaannya adalah kehidupan moral yang melebihi tokoh-tokoh agama, yaitu berkodrat Ilahi.

Dalam Matius 5:20 Tuhan mengatakan dengan sangat jelas: Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kata hidup “keberagamaanmu” dalam Matius 5:20 adalah dikaiosune (δικαιοσύνη). Kata ini lebih tepat diterjemahkan kebenaran yang bertalian dengan kelakuan, baik yang kelihatan mapun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hati dan pola berpikir kita. Kata dikaiosune menyangkut integrity, virtue, purity of life, rightness, correctness of thinking feeling, and acting (integritas, kebajikan, kemurnian hidup, kebenaran, kebenaran perasaan berpikir, dan perilaku). Dalam bahasa Inggris diterjemahkan righteousness. Kata ini dalam konteks tersebut bisa berarti beberapa, antara lain: state of him who is as he ought to be, righteousness, the condition acceptable to God (keadaan yang semestinya dimiliki, sebuah keadaan atau kondisi yang diterima oleh Tuhan).

Keadaan yang semestinya dimiliki, menunjuk kepada keadaan manusia yang seharusnya dikenakan sesuai rancangan Allah sejak semula ketika diciptakan.

Jadi, kalau orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa,
maksudnya bahwa manusia dibawa kepada keadaan sesuai dengan maksud Allah
menciptakan manusia itu, yaitu berkodrat Ilahi.

Kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang percaya harus berkeadaan diterima oleh Allah melebihi dari ahli Taurat dan orang Farisi, berarti orang percaya dihakimi dengan ukuran berbeda. Bisa dimengerti mengapa Paulus mengatakan bahwa ia berusaha untuk berkenan. Berkenan artinya berkeadaan diterima oleh Allah sesuai dengan standar yang diinginkan oleh Tuhan (the condition acceptable to God). Berkenan yang dimaksud oleh Paulus adalah diterima dalam rumah Bapa sebagai anggota keluarga Kerajaan. Hal ini lebih dari sekadar masuk dunia yang akan datang, tetapi keadaan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Ini berarti menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Inilah orang orang yang benar-benar menjadi benar.

Ungkapan “benar-benar benar” bukanlah ungkapan yang harus dikaitkan dengan keberadaan Allah sebagai satu-satunya yang memiliki keberadaan sempurna secara mutlak atau benar-benar mutlak benar. Sebab Allah tentu memiliki kebenaran yang mutlak. Dia lebih dari sekadar “benar-benar benar”, Dia adalah kebenaran yang absolut. Sangatlah picik kalau ungkapan ini dikaitkan dengan Allah, sebab kebenaran Allah sudah tidak lagi dipersoalkan atau dicoba untuk dibedah. Kebenaran Allah adalah kebenaran yang tidak dapat dipecahkan dengan pikiran manusia yang terbatas, sebab kebenaran Allah tidak terbatas. Orang yang mencoba mengkaitkan ungkapan ini dengan Allah, dan menentang adanya usaha untuk memahami apa yang “benar-benar benar” dari perspektif manusia adalah orang yang tidak memiliki kerinduan untuk menjadi berkenan kepada Allah. Bisa dibuktikan, orang-orang semacam itu tidak memiliki etika kehidupan yang memberkati sesamanya secara patut.

Kalimat “benar-benar benar” adalah ungkapan untuk membandingkan
antara kebenaran yang dipahami agama-agama pada umumnya
-termasuk agama Yahudi- dengan kebenaran yang diajarkan Alkitab
untuk dikenakan bagi umat pilihan.

Di sini kita menemukan dua jenis kebenaran, pertama kebenaran yang didasarkan pada hukum. Kedua, adalah kebenaran yang didasarkan pada Tuhan. Hal kedua ini dikenakan bagi umat Perjanjian Baru. Dalam hal ini orang percaya Perjanjian Baru harus mengerti kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Kehendak Allah tidak diwakili oleh hukum, peraturan-peraturan atau yang sama dengan syariat agama yang dikenal dalam banyak agama. Untuk mengerti kehendak Allah orang percaya harus belajar kebenaran. Dengan belajar kebenaran ini seseorang dapat memiliki kecerdasan roh. Kecerdasan roh inilah yang membuat seseorang memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah. Harus dipahami bahwa yang dikatakan “benar-benar benar” pada akhirnya adalah apa yang dikehendaki oleh Allah dalam kehidupan masing-masing individu, yaitu berkodrat Ilahi. Orang-orang inilah yang menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang bersama-sama dengan Yesus di rumah Bapa.