Allah seperti Senyap
06 January 2021

Play Audio

Tidak bermaksud melecehkan Sekolah Tinggi Teologi, tetapi memang fakta berbicara bahwa banyak lulusan Sekolah Tinggi Teologi yang menjadi pembicara yang mengaku sebagai “sumber pengetahuan tentang Allah,” tetapi tidak memperlengkapi diri dengan pengalaman perjumpaan dengan Allah. Mereka adalah orang-orang yang bisa mengisi banyak tulisan dan berkhotbah di media sosial. Dari pernyataan-pernyataan mereka dan tulisan-tulisan mereka dalam bentuk perdebatan-perdebatan dan adu argumentasi, tampak betapa tidak patutnya mereka menjadi jurubicara Tuhan. Dan itu menunjukkan kalau memang mereka tidak takut akan Allah. Mereka tidak segan-segan mengucapkan kalimat yang benar-benar tidak etis.

Dalam ukuran kesantunan umum saja sudah sangat rendah, apalagi diucapkan seorang yang mengaku sebagai utusan Kristus atau hamba Tuhan. Semua itu menunjukkan bahwa mereka hanya memiliki pengetahuan tentang Tuhan atau teologi, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Ini perlu dikemukakan, sebab pengaruh tulisan dan pernyataan-pernyataan mereka di media sosial cukup signifikan bagi jemaat yang belum bisa membedakan roh. “Membedakan roh” di sini artinya belum bisa membedakan antara kebenaran dan ketidakbenaran. Tidak jarang terjadi, tuduhan-tuduhan terhadap orang lain secara semena-mena, apakah tuduhan itu mengenai ajaran atau mengenai individu.

Perjumpaan dengan Allah yang dialami seorang teolog itu akan tampak. Antara lain, akan nyata sekali dari pernyataan-pernyataan dan tulisannya. Orang yang takut akan Allah itu—hasil dari perjumpaan dengan Allah—akan sangat kelihatan kesantunannya, kesalehannya. Mereka akan mengalah, tidak menyerang orang lain, tidak mengangkat diri, tidak menunjukkan bahwa seakan-akan dialah yang paling benar, penuh belas kasihan terhadap sesama, bahkan bukan hanya terhadap sesama orang Kristen tetapi juga terhadap mereka yang beragama lain pun mereka menunjukkan kesantunan. Faktanya, apa yang telah terjadi dalam dunia media sosial menunjukkan bahwa banyak teolog Kristen yang sebenarnya belum mengalami perjumpaan dengan Allah, dan jemaat harus mengerti. Sejatinya, mereka adalah orang-orang yang tidak patut didengar. Orang-orang yang hanya mau mengangkat diri, dan kalau hidup mereka diperiksa, mereka bukanlah orang-orang yang telah benar-benar memberi pengaruh positif kepada masyarakat di sekitarnya.

Sebaliknya, kita melihat ada hamba-hamba Tuhan yang tidak banyak bicara di media sosial, tetapi mereka adalah orang-orang yang menggarami jemaatnya atau orang-orang di sekitarnya, dan nyata sekali prestasi kehidupan yang mereka capai untuk sesamanya. Jangan sampai kita terbawa suasana fasik itu, suasana fasik di lingkungan Kristen. “Fasik” artinya tidak takut Allah dan tidak peduli perasaan-Nya, tidak peduli hukum-Nya. Jangan kita terbawa dalam suasana seperti itu. Maka, tidak perlu kita mendengar apa yang mereka kemukakan, tidak perlu kita membaca apa yang mereka tulis, karena hal itu akan mengeruhkan pikiran kita dan merusak spirit kita. Kalau kita sudah terlanjur memiliki irama hidup yang salah karena pengaruh media sosial yang fasik itu, kita masih berkesempatan untuk berubah dan mulai menemukan Allah.

Temukan Allah, cari wajah Allah dalam doa pribadi kita. Memang masalahnya Allah itu kadang-kadang seperti senyap, seperti tidak ada, seperti sulit dijangkau. Tetapi kalau kita benar-benar memburu pengenalan akan Allah dengan hati yang haus dan lapar akan Tuhan, kita pasti menemukan-Nya. Kita bisa merasakan hadirat Allah dalam penghayatan yang benar akan kehadiran Allah. Kita tidak akan terjebak dalam kepuasan memiliki pengetahuan tentang Allah tanpa mengalaminya, seperti yang banyak orang alami, memiliki banyak pengetahuan tentang Allah tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Dia. Kalau kita sungguh-sungguh mencari Allah—Allah yang seakan-akan senyap itu—Ia menjadi tidak senyap di dalam hidup kita. Dia berbicara aktif, Allah yang hidup. Sehingga kita bisa menemukan keindahan Tuhan. Dan kalau kita menemukan keindahan Tuhan, maka kita tidak akan lagi menoleh ke belakang, tidak akan berpaling. Dunia menjadi tidak menarik lagi. Kita menjadi takut berbuat dosa. Dan kalau berbuat salah, kita akan merasa kehilangan damai sejahtera.

Dengan diizinkannya COVID-19 ini melanda dunia, juga negeri kita atau masyarakat kita, hal ini mesti memicu kita untuk mencari dan menemukan Allah yang seolah-olah senyap itu. Apalagi kalau setiap saat kita bisa terpapar dan meninggal karena COVID, kita harus benar-benar telah menjumpai Dia, mengalami Dia. Sehingga ketika kita ada di ujung maut, tidak ada ketakutan terhadap kematian karena kita telah menjumpai Dia, mengenal Dia. Perdebatan-perdebatan teologi itu tanpa disadari mengarahkan orang kepada kepuasan diri dalam mengenal Allah di nalar saja, dan ini penyesatan yang benar-benar terselubung. Hal ini bukan berarti kita antiteologi; kita harus belajar teologi. Tetapi kalau hanya belajar teologi tanpa mengalami perjumpaan dengan Allah, itu masih fasik. Dan faktanya, kita melihat orang-orang yang memiliki pengetahuan teologi yang cukup atau bahkan berlimpah, ternyata perilakunya jahat, ternyata perilakunya menyakiti orang, ternyata perilakunya tidak lebih baik dari orang-orang non-Kristen, dan itu tampak dari tulisan dan pernyataannya di media sosial. Kiranya Tuhan memberikan kita kebijaksanaan dan hikmat untuk bisa membedakan roh ini.