Allah Merasa Nyaman
08 September 2020

Play Audio Version

Tidak bisa tidak, dengan berusaha hidup dalam perdamaian dengan Allah—dimana kita berusaha untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus—maka kita memiliki kualitas hidup yang luar biasa. Oleh karenanya Yesus berkata, “hidup keagamaanmu harus lebih dari hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi (Mat. 5:20). Jika tidak, maka tidak masuk surga, yang sama dengan tidak memiliki hidup dalam perdamaian dengan Allah. Orang percaya harus memiliki moral yang lebih daripada orang beragama pada umumnya, bahkan lebih dari tokoh-tokoh agama mana pun. Itulah sebabnya, di Matius 5:48 dikatakan bahwa kita harus sempurna seperti Bapa di surga. Sempurna seperti Bapa artinya orang percaya harus bisa bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, yang sama dengan mengenakan kodrat ilahi, mengambil bagian dalam kekudusan Allah.

Sempurna seperti Bapa bukan berarti kita menyamai Bapa. Kapasitas Allah sempurna, sedangkan kapasitas kita tidak sebesar Allah. Tetapi di dalam atau terkait dengan moral, kita bisa melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, orang percaya dalam karakter atau moralnya seperti miniatur karakter atau moral Allah. Dan inilah sebenarnya inti Injil. Hal ini sama dengan kalau dikatakan kita harus serupa seperti Yesus, bukan berarti kita sempurna sekelas Yesus. Yesus, Tuhan kita, memiliki kapasitas besar dalam segala pergumulan-Nya. Kita memiliki kapasitas yang berbeda, tentu lebih kecil. Tetapi, di dalam kapasitas yang terbatas itu, kita selalu melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Sesungguhnya, inilah inti dari Injil. Sebagai ilustrasi, kalau seseorang memiliki anak yang mirip dengan dirinya, orang bisa berkata bahwa anak itu “mirip bapaknya.” Anak tersebut memang tidak sekapasitas bapaknya, tetapi dia jadi miniatur bapaknya. Dalam hubungan kita dengan Allah sebagai Bapa kita, kita bisa menjadi miniatur-Nya.

Itulah sebabnya Yesus mengatakan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga" (Mat. 5:16). Apa yang dimaksud oleh Yesus dengan kalimat “melihat perbuatanmu, memuliakan Bapa?” Kalau bangsa-bangsa melihat kehidupan bangsa Israel, maka mereka melihat kedahsyatan kuasa Allah; tetapi kalau mereka melihat kehidupan orang percaya, mereka melihat karakter Allah. Jadi kalau dipertanyakan siapakah Allah yang benar, maka jawabannya adalah “lihatlah kehidupan bangsa Israel.” Tetapi kalau dipertanyakan bagaimana Allah yang benar? Jawabnya adalah “lihatlah kelakuan orang percaya.” Inilah kehidupan orang percaya yang telah berdamai dengan Allah.

Kalau seorang wanita hidup bersama dengan seorang pria, dan pria ini selalu mengucapkan sumpah serapah, kasar, sedangkan wanitanya lembut, pasti wanita tersiksa dalam hidup dengan pria seperti itu. Keduanya tidak bisa hidup dalam perdamaian. Oleh sebab itulah, Injil dikatakan sebagai kuasa Allah yang menyelamatkan, artinya kebenaran Injil dapat mengubah cara berpikir dan membuat orang percaya mengalami perubahan seluruh perilakunya. Bila hal ini terus berlangsung, maka orang percaya tersebut dalam kondisi berjalan dengan Allah, dan Allah merasa nyaman berjalan dengan orang tersebut. Kehidupan orang percaya seperti itu akan semakin menunjukkan bagaimana Allah yang benar itu.

Jadi, kalau seseorang masih hidup tidak sesuai dengan kesucian Allah, berarti percaya atau iman orang tersebut belum benar. Kesimpulannya, standar hidup yang harus kita capai sebagai orang percaya adalah berkodrat ilahi untuk dapat memiliki keadaan berekonsiliasi dengan Allah. Dan ini harus menjadi pergumulan yang tidak pernah berhenti sampai kita menutup mata. Untuk ini, orang percaya harus rela meninggalkan dunia dan segala kesenangannya, serta berkomitmen untuk hidup dalam kesucian sesuai dengan standar kesucian Allah.

Pertanyaan penting yang harus kita perkarakan adalah apakah kita sekarang dalam keadaan sudah berdamai dengan Allah? Hendaknya kita tidak hanya secara teori berdamai dengan Allah, karena rumusan sistematika teologi yang dipahami di dalam nalar semata-mata bahwa Yesus menjadi pendamaian buat kita. Hendaknya, kita tidak berasumsi kalau sudah merasa percaya kepada Tuhan Yesus berarti sudah didamaikan. Pendamaian itu berlangsung dalam aplikasi konkret hidup, yaitu ketika seseorang semakin serupa dengan Yesus.

Betapa mengerikan kalau seseorang meninggal dunia dalam keadaan belum diperdamaikan dengan Allah, sementara waktu hidup di bumi ia sudah merasa diperdamaikan dengan Dia. Orang percaya yang benar-benar sudah berdamai dengan Allah, pasti memahami kesucian dan standarnya adalah Allah. Itulah sebabnya, setiap hari kita harus menggelar perkara, seakan-akan kita sudah ada di pengadilan Tuhan: “Apakah ada sesuatu yang tidak beres dalam hidup kita, yang membuat Allah tidak nyaman dan kita tidak bisa hidup dalam perdamaian dengan Dia?”