Agar Tidak Menuai Kebinasaan
14 August 2019

Terkait dengan tatanan Allah mengenai hukum tabur tuai, dengan tegas firman Tuhan mengatakan: … Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Mat. 5:45). Pernyataan Tuhan ini memberi indikasi jelas bahwa berkat jasmani diberikan kepada semua orang secara adil. Matius 5:45 ini hendak menunjukkan bahwa Allah dalam keadilan-Nya memberi kesempatan yang sama kepada semua orang dalam meraih rezeki atau berkat jasmani. Banyak pendeta dan gereja mengesankan bahwa orang percaya memiliki hak khusus dalam meraih berkat jasmani. Hal ini terbangun dari cara berpikir yang salah, di mana mereka menyamakan orang Kristen dengan bangsa Israel yang memang hidupnya berorientasi pada berkat jasmani. Sangatlah keliru kalau Tuhan mengistimewakan orang percaya dalam hal berkat jasmani. Kalau Tuhan mempermudah orang Kristen dalam memperoleh berkat jasmani dibanding orang non-Kristen, berarti Tuhan merusak moral dan etos kerja orang Kristen tersebut. Dalam hal ini kita harus memahami bahwa orang percaya juga dipanggil untuk bekerja keras dan gigih di tengah-tengah marketplace.

Secara prinsip pada umumnya, hidup nafkah seseorang tergantung pada “ketekunan” seseorang mengumpulkannya. Seseorang memikul resiko dari perbuatannya. Oleh sebab itu salahlah kalau gereja menjanjikan bahwa dengan ke gereja dan doa para pendetanya maka rezeki lebih lancar atau berkat jasmani lebih banyak. Berkat jasmani banyak atau sedikit dipengaruhi oleh hal-hal ini: Pertama, ketekunan seseorang bekerja. Kedua, kepercayaan Tuhan kepada masing masing berdasarkan kebutuhan. Berdasarkan kebutuhan artinya, Tuhan mengerti porsi yang masing-masing kita butuhkan. Oleh sebab itu tidak semua permintaan dikabulkan. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita. Ketiga, tergantung kapasitas seseorang menerima berkat tersebut. Tuhan tahu porsi yang mampu seorang anak Tuhan dapat menanggungnya. Kalau seorang Kristen dapat menjadi rusak dengan adanya berkat jasmani yang berlimpah, maka Tuhan menahan berkat jasmaninya tersebut dan memberi porsi secukupnya. Kalau berkat terlalu banyak dan hal itu mengganggu pertumbuhan iman maka Tuhan tidak akan memberinya. Tuhan tahu ukuran kita masing-masing dan Tuhan memberi sesuai dengan porsinya.

Seperti yang disinggung di atas bahwa manusia memikul resiko atas perbuatannya, ini berarti bahwa akibat perbuatan individu harus ditanggung individu tersebut. Tuhan tidak akan membiarkan suatu kesalahan tidak ada akibatnya, sebab ini berarti melanggar prinsip keadilan Tuhan. Misalnya, seorang yang menikah lebih dari satu orang -walaupun sekarang ia sudah bertobat- tetapi akibat pernikahan poligaminya masih dialami. Seorang yang tidak menjaga kesehatan akan menanggung beban kelemahan tubuh. Seorang yang terlibat dengan prostitusi dapat terkena penyakit kelamin, walau sudah minta ampun. Ini bukan berarti tidak ada kemurahan, memang kadang-kadang Tuhan memberi kemurahan kepada orang-orang tertentu demi kepentingan-Nya. Namun hal ini tidak berlaku kepada semua orang. Seorang pengkhotbah yang tidak mempersiapkan diri dengan baik, baik pendidikan formal maupun informal, walau minta pengurapan pada waktu hendak berkhotbah tetap kualitasnya tergantung persiapan diri. Kalau suatu hari Tuhan memberi kemurahan itu demi kepentingan-Nya, bukan karena doanya. Demikian pula kalau seseorang malas, ia pasti akan menuai kemiskinan.

Bagaimana dengan orang-orang Kristen yang sudah terlanjur melakukan banyak kesalahan di masa lalunya? Apakah tidak ada solusi sama sekali untuk dapat keluar dari kubangan kegagalan masa lalunya tersebut? Bagi mereka yang sungguh-sungguh mau mengikut Tuhan Yesus, bersedia masuk dalam proses keselamatan -artinya bersedia dikembalikan ke rancangan Allah semula- maka semua keadaan yang tidak menyenangkan pun akan dapat menjadi sarana Tuhan dalam membentuk seseorang. Tuhan dalam kecerdasan-Nya yang sempurna dapat membuat semua resiko yang harus dipikul akibat perbuatan masa lalu seseorang sebagai sarana Tuhan dalam menyempurnakannya. Dalam situasi hidup yang berat, yang harus dijalani seorang yang bertobat dan sungguh-sungguh mau berubah, maka ia akan diubah Tuhan melalui keadaan tersebut. Dengan demikian, masih ada kesempatan bagi orang-orang yang pada masa lalunya hidup tidak sesuai dengan kehendak Allah, yang telah banyak menabur sesuatu yang bersifat negatif. Oleh kemurahan hati Bapa, ia dapat menjadikan tuaian yang menyakitkan menjadi berkat untuk pendewasaan rohani agar ia tidak menuai kebinasaan di kemudian hari.