Adonai, Sang Raja
22 December 2016

Dalam Perjanjian Lama kita menemukan kata Adonai (אֲדֹנָ֗י) untuk menyebut atau melafalkan kata atau nama Yahwe (יְהוָ֛ה). Pada masa-masa tertentu mereka tidak menyebut nama Yahwe, sebab nama itu dianggap sangat sakral. Mereka sungguh-sungguh dengan fanatiknya menganggap kata itu begitu kudus dan agung. Bibir manusia dianggap tidak pantas menyebutkannya. Kata Adonai ini berarti my Master (tuanku), berasal dari kata Adon. Kata adon menunjuk status seorang yang memerintah atau seseorang yang berkuasa atas budak-budak. Adonai dipahami sebagai Tuan dari banyak tuan-tuan. Tuan di atas segala tuan, yang juga sama dengan Raja di atas banyak raja.

Kata Yahwe diakui sebagai nama Allah Israel, sedangkan kata Adonai adalah sebutan untuk Yahwe yang diakui sebagai Majikan, Tuan, Sang Penguasa dan yang sejajar atau sama dengan kedudukan Raja. Dalam hal ini kita bisa mengerti mengapa Tuhan berduka dan marah kepada bangsa Israel yang mendesak Samuel untuk memiliki raja, sebab sesungguhnya Allah (Elohim) sendiri itulah Raja mereka (1Sam. 8:1-22). Tentu saja dalam hal ini yang dimaksud dengan Raja Israel adalah Allah Anak sebagai penerima mandat untuk memerintah dari Bapa. Kitab Mikha 5:1-2 mengatakan bahwa pemerintahan-Nya sudah ada sejak zaman purbakala, sejak zaman dahulu kala.

Dalam pernyataan Tuhan Yesus juga sangat jelas bahwa diri-Nya sudah memiliki kemuliaan sebelum dunia dijadikan. Ia memiliki kesetaraan dengan Allah (Theos ; Flp. 2:5-7). Kesetaraan ini artinya Allah Anak ada di dalam Lembaga Ilahi yang disebut Elohim. Kalau dikatakan bahwa Yesus sehakikat dengan Allah Bapa -seperti teori banyak teolog-, maka jika hakikat tersebut berbicara mengenai unsur ke-Allahan adalah benar sekali Yesus sehakikat dengan Bapa. Sehakikat dalam dalam arti berstatus sebagai Allah dalam Lembaga Ilahi (Elohim). Tetapi dalam strata atau hierarki, Allah Anak tidak pernah sejajar dengan Bapa. Bapa adalah kepala Kristus, dan Kristus sebagai Tuhan yang diberi kepercayaan mengelola alam semesta ini. Jadi, permintaan bangsa Israel adanya seorang raja yang memerintah mereka secara politis berarti menolak seutuhnya keberadaan Allah Anak mewakili Yahwe sebagai Raja mereka.

Dalam hal di atas kita menemukan bahwa fungsi Raja juga merangkap sebagai imam atau berorientasi pada wilayah keagamaan dalam hubungannya dengan Allah. Raja mereka sebenarnya adalah Allah Anak yang juga telah menjadi imam menurut peraturan Melkisedek (Ibr. 5:6-10). Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; Ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya, Melkisedek pertama-tama berarti raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera (Ibr. 7:2).

Adapun kalau di Perjanjian Baru kita temukan kata “Kurios” (κύριος), kata ini ditujukan bagi Tuhan Yesus. Kata ini sejajar dengan kata Adonai. Kata Kurios berarti tuan, majikan atau penguasa. Murid-murid dan pengikut Tuhan Yesus menggunakan gelar ini untuk dikenakan bagi Tuhan Yesus. Harus jujur diakui bahwa sebutan Kurios baru ada sesudah zaman Tuhan Yesus, atau setelah Tuhan Yesus naik ke surga.

Pengenaan gelar ini bagi Tuhan Yesus menimbulkan kecurigaan kekuasaan Romawi terhadap orang Kristen yang dianggap bisa memicu pemberontakan, sebab mereka memiliki kaisar lain selain kaisar Roma. Hal ini menjadi salah satu pemicu penganiayaan terhadap orang Kristen pada zaman itu. Tetapi murid-murid tetap bersikukuh dengan panggilan tersebut. Panggilan Tuhan (Adonai dan Kurios) untuk Yesus Kristus memiliki makna yang sangat penting dalam menyoroti keberadaan Allah. Hal ini merupakan jantung masalah yang harus dipahami untuk memecahkan misteri mengenai Allah. Ketika kita bisa memperlakukan Yesus Kristus sebagai Tuhan bagi Allah Bapa, maka kekusutan misteri mengenai Allah Tritunggal dalam pikiran kita bisa dapat diurai lebih mudah.